Semalam di Bandara Changi

IMG_20150424_093625

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | 3 Komentar

5 Alasan Mengapa Harus ke India

What… ? Ngapain ke India? kenapa harus India yang dipilih?suka yah nonton Bollywood? Cocok gak dengan makanannya yang aroma rempahnya begitu kuat? Katanya India rawan jika perempuan plesiran kesana, kamu berani? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terlontar saat saya mengatakan akan ke India. 

Kan jorok dan kotor serta bukanlah tempat yang pas buat Shopping?” ungkap beberapa teman yang tahu jika saya bakal melenggang ke negara ini. Dengan melempar senyum tipis kujawab “Maklumlah, saya ini cuma petualang dengan dana minim, dan tidak begitu suka shopping” (halaaah alasyaaan, bilang aja belum banyak duit makanya gak suka…heee). 

Di India, orang masih bisa melihat kotoran manusia di pinggir jalan. Tumpukan sampah menyemut, dari kantong pemukiman sampai pantai-pantai terkenal. Kotor adalah pemandangan menyehari dan itu seperti terjadi begitu saja. Menurut CIA World Factbook Tahun 2016,  India berada di urutan kedua jumlah penduduk terpadat di dunia sebanyak 1.266.883.598 jiwa atau sekitar 17,3% dari keseluruhan jumlah penduduk di Dunia ini. Sehingga dalam benak kebanyakan orang, bukanlah destinasi yang menarik untuk dikunjungi. 

Seluruh dunia agaknya sepakat betapa masyarakat India tak peduli kebersihan, bahkan warga India sekali pun. Di website forum Quora, ada pertanyaan singkat, “Why India is very dirty?” Hampir semua yang menjawab adalah netizen India, dan mereka setuju bahwa negaranya kotor. Segelintir warga India yang peduli kebersihan menyesalkan fakta ini. PM India Narendra Modi menanggapi sampah sebagai masalah krusial. India krisis sampah dan menargetkan India bebas sampah pada 2019 dengan mencanangkan program Swachh Bharat (India bersih) sejak 2014. Nah berarti tahun mendatang gak perlu khawatir kan ke India? 

Daripada panjang lebar nda jelas, saya akan langsung menjawab alasan saya memilih untuk berkunjung ke India Maret lalu.

1. Ngapain ke India?

Pastinya bukan karena Shah Rukh Khan atau mencari aktor India lainnya yang terkenal begitu romantis dalam film-film bollywood yang membuat hampir semua wanita terpesona, tetapi saya mencari sosok Shah Jahan yang membuat setiap wanita yang membaca kisah cintanya akan terharu hingga termehek-mehek…uupss kidding. Ngapain ke India? baiklah akan saya jawab jujur kali ini. Karena saya suka budaya, sehingga selalu penasaran ingin melihat langsung budaya dan masyarakat lokal yang berada di tempat itu. saya tidak akan bisa bercerita banyak, jika hanya membacanya melalui buku. 

India salah satu dari peradaban tua di dunia. Ada beberapa peradaban di dunia ini, di antaranya adalah peradaban Asia (India dan Cina), Afrika (Mesir dan Mesopotamia), Eropa (Yunani dan Romawi), dan Amerika (Maya, Inca, dan Aztec). Penemuan kebudayaan di sungai India kuno, berawal pada abad ke-19 (tahun 1870). Munculnya peradaban Harappa lebih awal dibanding kitab Veda. 

Berada di negara ini tidak jauh beda seperti kita melihat film-film kolosal seperti Ramayana, Mahabarata. Kita masih menemukan penduduknya sebagian besar masih menggunakan saree, pakaian khas wanita India dan rangkaian bunga melati yang disemat dirambut mereka dengan assesoris gelang dan kalung menjadi pelengkap style seorang wanita India. Pakaian ini tidak hanya digunakan saat perayaan atau kawinan, tapi hari-hari biasa akan selalu kita dapati dimana-mana. Mana ada sekarang ini yang pakai kebaya di hari-hari biasa kecuali saat menghadiri acara-acara resmi atau pesta perkawinan. 

Karena hal ini sulit kita dapatkan di tempat lain sehingga membuat saya nyaris tersandung berjalan di jalanan bahkan saat berada di ruang tunggu stasiun kereta yang membuat saya nyaris ketinggalan kereta karena begitu asyik mengabadikan moment ini.

Suasana ruang tunggu di Chennai Central

2. Kenapa harus India yang dipilih? 

Katanya belum sah jadi seorang Traveler kalau belum pernah menginjakkan kaki di negeri ini. Selain itu, hampir semua Travel Writer dan Photographer terkenal pernah memilih India dalam kunjungan mereka. 
Kalau saya sendiri, bukannya sok ingin dikatakan traveler yang sah juga bukan seorang Travel Writer terkenal namun jujur mengakui diantara beberapa peradaban di atas yang saya sebutkan, hanya India saat ini yang sesuai isi kantong seorang backpacker seperti saya heeee…. 

Murah, itulah alasan mengapa memilih India sebagai destinasi saya maret lalu. Mengapa saya mengatakan murah karena 1 Rupee itu senilai dengan Rp.200,-  sangat jauh dari Dollar Amerika atau Euro. Bahkan pernah ada selentingan yang mengatakan, biaya hidup di India jauh lebih murah ketimbang biaya hidup di kota-kota besar yang ada di Indonesia. 

Saya membuktikannya, ketika membeli tiket kereta lokal dari Chennai airport menuju Chennai central itu hanya seharga Rs 5 senilai dengan Rp 1000. Nah, mana ada transportasi umum sekarang ini seharga itu. Itu dari segi transportasi, belum lagi makanan. Seporsi nasi Briyani komplit (nasi +ayam+telur+acar+salad bawang) plus chai (teh khas India) dihargai Rs 90 atau senilai Rp 18. 000 dan masih banyak lagi yang tidak saya ceritakan yang bisa membuat kaki gatal untuk segera kesana. 

Nih tiketnya, Rs 10 untuk dua orang. Murahnyooo…

3. Suka yah nonton Bollywood?

Kalau dibilang suka yah tidak selalu, tergantung. Meski Bollywood banyak bercerita tentang love story,  genre biography sering menjadi pilihan saya jika akan menonton film. Karena saya suka baper dan mewek kalau nonton film-film love story, sehingga Bollywood sering masuk dalam list film yang sering saya tonton, tentunya mengisahkan tentang kisah cinta dan wujud cinta dalam keromantisan yang nyata terjadi masa lalu. Salah satu bukti wujud cinta seorang suami kepada istrinya yang lebih dahulu meninggal yakni berdiri sebuah bangunan yang megah dan menjadi Icon negara ini. Yah katanya belum ke India kalau belum berkunjung ke Taj Mahal. 

Mengunjungi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang merupakan Icon dari India adalah hal mengapa saya ingin ke India. Tidak terlepas dari sejarah berdirinya Taj Mahal yang dilatar belakangi tentang wujud cinta Shah Jahan untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal yang sangat dicintainya yang terlebih dahulu meninggal dunia tetapi juga karena menjadi incaran para tourist asing yang datang dari berbagai negara di seluruh Dunia. 

Alasan kedua karena Kashmir berada di bagian utara India. Selesai nonton film Bhajrangi Bhaijaan yang direkomendasikan teman pada september 2015, hasrat untuk mengunjungi India begitu menggebu-gebu (heheee sedikit lebay). Melihat view dalam film ini, yang mengambil syuting di Kashmir. Kashmir merupakan lembah yang berada di wilayah kaki gunung Himalaya yang terkenal dengan keindahan alamnya yang membuat mata selama menonton film ini tak sedetikpun untuk berkedip.Terlebih disini kita bisa menikmati salju abadi, yang katanya menyerupai Swiss. Jika penasaran, segera nonton filmnya (heeee, bukan promosi). 

4. Kuliner India khas dan unik

Kuliner India begitu khas, selain cita rasanya yang kuat juga cara penyajiannya.  Cita rasanya khas karena penggunaan berbagai rempah-rempah khas India dan sayuran yang tumbuh di India, dan beraneka ragam hidangan vegetarian. Masakan India juga mencerminkan keanekaragaman iklim, demografi dan agama. 

Boleh dikata meski memejamkan mata dan hanya mencium aromanya kita sudah bisa mengetahui kalau itu masakan India. Entah mengapa aromanya begitu kuat di penciumanku. Restaurant masakan India juga ada di kota tempat tinggal saya, dan merupakan salah satu resto favorit saya ketika nongkrong bersama teman saat menghindari makanan berat. Katanya mencicipi makanan langsung dari kota asalnya pasti lebih nikmat dan berkesan. Betul sekali pendapat ini, ternyata sangat berbeda sekali yang pernah saya rasa sebelumnya dengan yang saya rasakan saat berada di negeri ini, kuahnya begitu kental dan sedikit hambar. Belakangan saya juga mengetahui kalau makanan india itu kaya rempah yang menyehatkan. Nah daripada penasaran dan bertanya-tanya, saya akhirnya memutuskan untuk merasakan langsung masakan India di negara asalnya. 

5. Katanya India rawan jika perempuan plesiran kesana, kamu berani?

Nah bagian ini yang paling membuat saya dag dig dug, bingung mau jawab apa. Mau jawab berani, takutnya takabbur. Mau tetap dengan kekhawatiran apalagi banyaknya media yang menayangkan berita pemerkosaan, berarti saya tidak melangkah-melangkah. Yah sudahlah, saya jawab saja. Bismillah, In shaa Allah akan baik-baik saja. So, packing your bag Ratih and go (dalam hati saya berkata kala itu). itulah yang saya lakukan sebelumnya dan alhamdulillah keputusan saya tidak salah, karena akhirnya tiba kembali ke tanah air dengan selamat. 

Sedikit bercerita tentang pengalaman travelmate saya, seorang gadis cantik yg masih tergolong muda diantara kami karena masih koas. Melihat reaksinya saat meet up di Kuala Lumpur, tak sedikitpun dari raut wajahnya menampakkan kekhawatiran akan melakukan solo traveling dari Kolkata hingga Kashmir. Dia yang akan terbang duluan ke India dan masuk lewat Kolkata, karena kami membeli tiket beda-beda sehingga hanya janjian ketemu di Kashmir. Dia bercerita perjalanannya seorang diri hingga ke Jammu yang tak sedikitpun ada hal-hal yang buruk, bahkan saya kaget ketika dia menghubungi saya. Dan ternyata dia tak pernah membeli sim card selama di India, dia sering ditolong orang lokal untuk berbagi wifi. 

Saya juga selama di India menggunakan transportasi lokal dan tentunya berbaur dengan masyarakat lokal, tetapi alhamdulillah kami banyak dibantu mereka selama perjalanan. Mulai dari memberikan bekalnya saat dikereta, membantu menawarkan bajai dengan bahasa lokal, ada juga keluarga yang terus membuntuti kami, karena merasa aneh dibuntuti terus akhirnya saya menghampiri bapak dan bertanya, jawabannya membuat saya dan Ayie saling bertatapan. Dia mengatakan “Sorrymy Family wanna take a picture together” ternyata bukan kami saja yang tertarik dengan mereka. Mungkin kami juga unik dimata mereka, apalagi teman saya menggunakan saree dengan model kerudung yang berbeda. Akhirnya kami bagai selebrity berjalan anggun menuju mereka yang telah menunggu dari jarak 20 meter dan berfoto bersama fans kami (heeeeee, mulai pede). 

Keluarga ini katanya ngefans dengan kami berdua,hingga bapak ini mengukuti kami terus sejak masuk ke Taj Mahal,

Belakangan saya diberitahu oleh teman, pemetaan wilayah yang aman untuk dikunjungi oleh wanita. Hanya Delhi yang berwarna merah, untung saya di Delhi hanya numpang lewat saja.heee

Well, begitulah cerita saya dibalik kunjungan ke India. Jika ada yang punya pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan yang saya alami, packing your backpack and go…. Biar membuktikannya sendiri :):)

Dipublikasi di Luar Negeri | Tag | 4 Komentar

Melihat kehidupan suku Sasak di dusun Ende                         

Gerbang masuk menuju dusun Ende

Berbicara tentang Lombok tidak sah rasanya jika tidak mengunjungi desa wisata yang berada tidak jauh dari Bandara International Lombok di Lombok Tengah. 

Desa Sade yang paling banyak diketahui sebagai desa wisata untuk melihat kehidupan langsung masyarakat Sasak. Namun karena kami anti mainstream, kami mengunjungi dusun Ende yg lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Sade dan tidak begitu turistik serta masih alami karena hanya dihuni sedikit KK dibandingkan Sade. 

Suku Sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam.

Kata Sasak berasal dari kata sak sak, artinya satu satu. Orang Sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah Sèsèk. Kata sèsèk berasal dari kata sesak,sesek atau saksak. Sèsèk dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu(sak sak).

Menurut Abang guide yang mengantarkan kami berkeliling dan saya lupa namanya, Dusun Ende hanya di huni 24 KK yg mana setiap KK pada umumnya berjumlah 4 – 5 org.

Rumah Sasak terdapat dua ruangan, bagian dalam digunakan utk tempat tidur perempuan dan merangkap dapur sedangkan bagian luar untuk laki-laki.

Selain rumah huni ada juga Balai Tani (rmh utk petani),Balai Bunter,Lumbung padi yg unik krn khas model sasak, betuga’ (tempat peristrahatan jika plg dari sawah), balai jajar (Balai Pertemuan) jika ingin membahas masalah-masalah.

          “Lumbung Padi khas Sasak”

Keunikan rumah sasak, lantai dan dindingnya diolesi kotoran hewan (sapi) setiap 2 minggu sekali. Dan ternyata tdk bau pemirsa, setelah saya menempelkan hidung di dinding. 

Keunikan lainnya untuk menikahi gadis Sasak sebelum ia di lamar,  ia harus diculik terlebih dahulu. Saya dan Lastri saling berpandangan mendengar penjelasan ini (Culik adek dong Bang Hee). 

Jika ingin membeli ole-ole tersedia souvenir hasil kerajinan masyarakat setempat dan juga kain hasil tenunan perempuan sasak.  Utk msk tdk ada patokan harga, dibayar sesuai keikhlasan hati. 

Sebaiknya pakai guide yg ada karena mereka tidak paham bahasa Indonesia. 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , | 6 Komentar

Keliling Lombok 4 hari 3 Malam

Siang itu seluruh umat muslim sibuk bersilaturahim bersama sanak saudara karena merayakan hari raya Idul Fitri, tetapi kami berdua malah bertolak meninggalkan kota Makassar. Tanggal 28 july 2014 pukul 15.05 WITA dengan pesawat Garuda tujuan UPG-LOP (Ujung Pandang – Lombok Airport Praya) saya berdua Lastri(Travelmate) malah memulai trip kami dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau Nusa Tenggara Barat.

DSC_0001

 

Lombok menjadi destinasi yang begitu saya impikan, karena jujur saja banyak mendengar cerita tentang indahnya pantai-pantai di tempat ini. Sebelum berada di Lombok, destinasi favorit yang ramai diperbincangkan orang-orang yah Gili Trawangan, Senggigi, Rinjani yang masuk dalam daftar gunung tertinggi ketiga di Indonesia serta rumah adat suku sasak yang unik itu. Tetapi ternyata setibanya di sana, kami malah di tertawakan oleh anak Lombok Backpacker. Mereka mengatakan waduh Cuma empat hari di Lombok? Itu tidak cukup, bahkan masih banyak tempat yang indah-indah selain dari yang kami sebutkan di atas.

Sore pukul 16.20 WITA kami tiba di Bandara Internasional Lombok di Praya, waktu terbang sekitar 1 jam lebih 15 menit. Bandara ini terletak di Lombok Tengah. Jarak dari bandara menuju ibu kota provinsi adalah 36 km, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 50 – 60 menit. Setibanya di Bandara kami berfoto di depan sejenak, kemudian keluar untuk menunggu Damri yang akan mengantarkan kami menuju kota Mataram.

Praya

Yeaayyyyyy, Welcome to Bandara Internasional Lombok (LOP)

Untuk mengunjungi Lombok ada beberapa beberapa alternatif rute yang bisa dilewati. Bisa melalui jalur udara, laut dan darat. Sengaja kami menggunakan jalur udara dengan penerbangan langsung Makassar-Lombok karena ingin menghemat waktu agar sepulangnya dari Lombok kami bisa mencoba meninggalkan Lombok melalui jalur laut.

Perjalanan untuk Jalur Udara bisa langsung dari kota anda menuju Bandara Internasional Lombok, jika tersedia rute direct atau bisa transit terlebih dahulu melalui bandara Ngurah Rai di Denpasar kemudian lanjut Bandara Internasional Lombok (LOP).

Perjalanan melalui Jalur laut biasanya menggunakan kapal laut yang umumnya disiapkan oleh PT.PELNI karena ada dua pelabuhan yang merupakan gerbang masuk ke Lombok yakni pelabuhan lembar yang berada di Lombok Barat dan Labuhan yang berada di Lombok Timur. Namun Jika berada di pulau terdekat seperti Bali dan Sumbawa bisa ditempuh dengan menggunakan Ferry atau kapal cepat (speed boat) yang akan selalu tersedia tiap jam.

Untuk yang berada di sekitar Jawa, Jakarta juga bisa menempuh dengan jalur darat. Seperti halnya rute yang kami gunakan saat meninggalkan Lombok menuju Banyuwangi. Melalui pelabuhan Lembar nyebrang dan masuk ke pelabuhan Padang Bay (Bali) kemudian menuju kota Denpasar dengan menggunakan angkot hingga terminal Ubung kemudian di terminal Ubung kita bisa menyewa bus langsung Banyuwangi atau bisa juga menggunakan angkutan umum dari terminal Ubung menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang ke pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Nah, dari kota Banyuwangi nanti jika hendak menuju Jakarta ataupun wilayah lainnya di kota Jawa bisa naik kereta ataupun bus yang akan mengantarkan anda ke kota tujuan.

fery.jpg

Suasana di Kapal Ferry dari pelabuhan Lembar menuju pelabuhan Padang Bay

Waduh saking panjang lebarnya bercerita tentang rute untuk masuk ke Lombok, saya lupa cerita saya terputus di atas. Baiklah, mari kita lanjut bercerita. Sore itu dengan menngunakan bus DAMRI dari Bandara kami menuju kota Mataram dengan rute Bandara- Terminal Mandalika yang ditempuh selama 1 jam dengan tarif Rp.25.000,-.

Jika anda memilih untuk langsung ke Senggigi juga terdapat rute Bandara-Senggigi dengan tarif Rp.35.000 dengan waktu tempuh 1,5 jam. DAMRI ini beroperasi mulai pukul 04.00 WITA hingga 20.00 WITA. Selain bus DAMRI di Bandara juga tersedia Taksi jika anda ingin mencari alternatif lain atau jika ketibaan anda di luar jam operasional bus DAMRI.

Belum cocok juga dengan Taksi atau Damri, masih ada pilihan kendaraan Travel yang dapat dipesan atau dibooking terlebih dahulu sebelum kedatangan di Lombok. Tapi yang satu ini sepertinya lebih cocok jika berlibur berkelompok atau membawa banyak barang karena bisa ada partner sharing cost.

Masih belum ada yang cocok juga? Baiklah, kita masih memiliki opsi angkot (orang di sini nyebutnya Keri (dari Carry)). Tapi, Keri tidak ada di dalam area Bandara. Anda harus mau jalan kaki ke luar area Bandara kurang lebih 500 meter. Keluarlah ke bypass bandara, dan tunggu Keri lewat di situ. Keri yang lewat depan Bandara Lombok adalah Keri rute Sengkol – Praya, sehingga kalau Anda ingin ke Praya atau ke Sengkol cocok menggunakan transportasi ini. Kekurangan dari Keri ini adalah jarang yang beroperasi sampai malam, paling aman ada sampai jam 5 sore. Tapi kelebihannya tentu saja di ongkos.

Bandara

Jalanan dari Bandara menuju kota Mataram

DSC_0416

Hamparan sawah yang memanjakan mata dalam perjalanan dari Bandara menuju kota Mataram

Setibanya kami di terminal Mandalika pukul 18.30 WITA kami kesulitan untuk menemukan ojek yang akan mengantarkan kami menuju rumah singgah Lombok Backpacker di jln. Bangil V, maklum hari itu masih suasana lebaran dan kemungkinan tukang ojeknya juga masih libur. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari taksi.

Sekitar setengah jam menunggu, barulah kami menemukan taksi yang akan mengantarkan kami ke tempat untuk menginap selama berada di Lombok. Rumah singgah Lombok Backpacker diperuntukkan bagi pelancong yang akan berkunjung ke Lombok, baik itu yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Maklumlah prinsip backpacker kalau ada yang murah kenapa harus mahal, dan kalau ada gratisan kenapa harus membayar. Tapi bukan itu tujuan utama kami, memilih menginap di rumah singgah untuk berbaur dengan masyarakat lokal agar memperoleh informasi langsung dari teman-teman mengenai spot yang akan kami tuju begitupula tentang budaya dan kuliner yang khas di kota ini. Dan tentunya akan berbagi pengalaman sesama traveller dari berbagai daerah yang mengunjungi rumah singgah tersebut.

Setibanya kami di Rumah Singgah, kami tak menemukan mamak dan bapak pemilik rumah tersebut. Beliau masih berada di rumah puterinya yang juga tinggal di kota Mataram namun di alamat berbeda. Anak-anak Lombok Backpackerpun tak ada yang berada di rumah itu, saya hanya menemukan dua perempuan dari Jakarta yang baru saja tiba dari Gili yang juga telah menginap di rumah itu dan dua perempuan turis asing yang tidak sempat saya tanyakan asalnya.

Oh ya, rumah singgah ini tak pernah dikunci, jadi meskipun tuan rumah tak berada di tempat kita bisa saja datang kapan saja asalkan telah menyampaikan dan dikonfirmasi dari pihak rumah singgah. Tak berapa lama kami menaruh tas di kamar, kemudian datanglah mas Tendou salah satu anak Lombok Backpacker karena telah disampaikan oleh admin Mas Duta untuk menyambut kami (Caileee, serasa orang penting). Maklum kami hanya mengontak mas Duta saat kami tiba di Bandara, dan beliau pulalah yang memberikan kami informasi angkutan yang harus kami tumpangi untuk menuju ke rumah singgah. Beliau masih mudik, jadi tidak sempat menemui kami.

Tendou

Ini mas Tendou sibuk menjelaskan spot-spot wisata di Lombok melalui peta yang tertempel di dinding tembok rumah singgah

rame

Suasa kekeluargaan bersama penghuni Rumah Singgah. Dari Kanan akan saya perkenalkan : Mba lupa namanya (Anak bungsunya Mamak), Lastri (Travelmate saya), Mamak (Pemilik rumah singgah), Saya sendiri, Mas Micko Kuncoro (Anak lelakinya mamak), Shine lee (Traveller dari China)

Sekarang saatnya saya akan bercerita spot apa saja yang saya kunjungi di Lombok selama 4 hari 3 Malam mulai dari Lombok tengah, Lombok Barat, Lombok Timur. Yuk intip petualangan dua gadis mengitari Lombok dengan menggunakan sepeda motor pinjaman teman di cerita selanjutnya (Part 2).

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Lombok Part 1 | 2 Komentar

Aku dan Mbo’e

Perjalananku diawal tahun 2013 lalu menuju kota Semarang dari kota Yogyakarta begitu membekas dalam ingatan. Bagaimana tidak, perjalanan singkat namun mampu mengubah sudut pendangku terhadap laki-laki. Boleh dikata karena perjalanan ini, kriteria calon suami idamanku tercetus.heeeee sedikit lebay….

Perjalanan ini  saya rencanakan dengan  Ime (sahabat saya)beserta anak dan ibunya, rute yang akan kami tempuh yakni  Makassar – Jakarta – Bandung – Bogor – Jakarta – Yogyakarta – Solo – Semarang – Yogya – Makassar selama 14 hari.

Pagi itu meski sedikit ragu, kubulatkan tekad untuk tetap melanjutkan perjalanan seorang diri. Malam sebelum keberangkatan Ime mengatakan  “ Sepertinya nda bisaka besok lanjut ke Semarang, agak demam anakku. Mungkin capek sekali mi, saya tunggu miq saja disini” ( Sepertinya saya tidak lanjut ke Semarang esok hari karena anakku agak demam. Mungkin karena kelelahan, saya menunggu di sini saja).

Setelah berbincang  malam itu bersama Ime, kurebahkan tubuhku ke sudut tempat tidur dan berbaring menghadap tembok kamar dimana tergantung sebuah hiasan dinding bergambar Candi Prambanan. Resah, ragu, was-was, sedikit gugup karena belum pernah melakukan perjalanan luar kota seorang diri apalagi tempat ini belum pernah aku kunjungi. Kutarik nafas dalam-dalam, kubuka kembali  sms ajakan tetangga yang berharap menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Kupejamkan mata untuk melawan batin yang lagi berperang, kuucapkan Bismillah sambil bergumam dalam hati “Semarang, tunggu aku”.

Selesai sholat subuh, aku mulai menyiapkan apa-apa saja yang akan kubawa untuk berada di Semarang selama dua hari satu malam. Tepat pukul 07.00 WIB selesai sarapan aku bergegas berpamitan pada Ime dan tak lupa menanyakan pada ibu pemilik hostel kode nomor Trans Yogya menuju terminal Jombor tempat mengambil bus menuju kota Semarang.

Melangkah meninggalkan hostel menuju halte MT. Haryono I yang hanya berjarak 100 meter dari hostel tempat kami menginap. Menunggu bus kode 3A sesuai petunjuk ibu tadi, dan nanti akan turun  di halte Malioboro untuk berganti bus dengan kode 2B menuju terminal Jombor.

Setibanya di terrminal Jombor, kulirik jam pada telepon genggamku menunjukkan pukul 07.50 WIB. Celingak celinguk di terminal mencari bus menuju Semarang. Beberapa meter tempatku berdiri nampak seorang kenek teriak-teriak nama kota-kota yang akan dilalui oleh bus tersebut, namun saat ia menyebutkan Semarang aku segera bergegas menuju bus tersebut.

“Mas, ini ke Semarang yah???kataku, “iya, semarangnya dimana mba??tersentak dengan pertanyaan kenek,sedikit bingung dan lupa alamat yang diberikan oleh tetanggaku. Kurogoh telepon genggam dalam tas salempang kecilku membuka kembali pesan inbox, mencari alamat tempat kost yang diberikan. Sepertinya tempat kostnya berada disekitar UNDIP, setelah kubaca segera kujawab pertanyaan kenek tadi  “Tembalang mas”, kataku.

Ayo mba, naik..naik bus sudah mau berangkat”, katanya.  Secepat kilat kuayunkan langkah menaiki bus yang terlihat seperti bus tua, namun masih layak pakai. Bus ini adalah bus ekonomi dan non AC. Aku naik dari pintu tengah bus, kulihat kursi kosong pas dihadapan pintu. Setiap baris tempat duduk terdapat dua kursi, kutaruh tas ransel didepan kursi lalu aku duduk.

Ada seorang wanita tua yang duduk disampingku, pandangannya ke arah jendela kaca bus. Sejak saya naik ke bus hingga duduk disebelahnya, sedikitpun dia tidak menoleh. Dalam hati aku mencoba menerka, barangkali  nenek tua ini tengah asyik memandangi lalu lalang orang di luar sana, atau sedang menunggu dan janjian dengan seseorang?entahlah, tapi kenapa juga saya sibuk dengan tingkah laku nenek ini, toh sama sekali apa yang dilakukannya tidak menganggu kenyamanan saya.

Segera kukeluarkan headset dari tas selempangku, mari dengar musik saja Ratih daripada sibuk menerka-nerka tentang nenek tua itu. Jangan sampai malah nanti larinya ke pikiran negatif. Jarak tempuh Yogyakarta ke Semarang sekitar 124 Km dan akan melewati Mungkid, Magelang, Ambarawa,Bergas  hingga tiba di kota Semarang. Kata tetanggaku, lama perjalanan sekitar 3 jam kalau tidak macet. Wah, berarti masih bisa tidur sambil dengar musik yah pemirsa…heee…

Tiba-tiba tersentak saat kenek berdiri tepat dihadapanku, segera kukecilkan volume musik. Karcisnya mba” katanya sambil menyodorkan potongan karcis dihadapanku. segera kurogoh dompet dalam tas salempang yang berada di pangkuanku. Kukeluarkan lembaran seratus ribu rupiah, kemudian kenek bus pun menoleh kearah wanita tua dengan rambut ikal dengan dipenuhi uban yang hanya diikat karet gelang yang masih menatap ke arah jendela kaca bus. “Karcise mbo’e” katanya. Seperti itu yang terdengar olehku, mohon maaf jika tidak sesuai soalnya saya bukan orang Jawa.hee…

Tak sedikitpun nenek tua itu berbalik, tak jua menyahut. Hingga kulihat kenek bus itu melongo, dan malah berbalik arah menatapku. Sepertinya si kenek mengira kalau ibu tua itu adalah ibu saya, ataukah nenek saya atau saya mengenalnya. Kujawab dengan pelan “iya mas saya berdua” akhirnya kenek tersebut berlalu ke belakang bus mencari kembalian karena tak punya uang kecil.

Tak kusangka baru saja kenek berlalu, tiba-tiba nenek tua yang membuat saya penasaran sejak berada di bus ini akhirnya menoleh. Kemudian beliau menyodorkan lembaran uang seratus ribu rupiah kepadaku. Akupun berbalik sambil berkata “Sudah ko’nek ga papa” tetapi dia tetap bersikeras menyodorkan uangnya. “Terima kasih nduk, ambil aja” dengan suara yang begitu lemah. Kujawab, “aku nda ada kembalian nek, ga papa nek”.  “Terima kasih nduk” kata nenek tua itu. Tak lama kemudian kenek datang membawa kembalian uang saya.

Nenek tua itu memasukkan kembali lembaran seratus ribu tersebut ke dalam dompet kecilnya.  Matanya terlihat sembab seperti habis menangis, dari raut wajahnya terlihat dia begitu kelelahan. Di tangannya sedang memegang handuk kecil, yang sesekali diusapkan ke hidungnya yang nampak kemerahan. Benar dugaan saya, nenek tua ini habis menangis.

Kucoba menerka, mungkin saat tadi kenek meminta uang karcis beliau bukannya tidak mendengar namun menghapus air matanya dulu. Hmmm, saya terlihat seperti telepati yang mengerti makna diamnya nenek ini. Tiba-tiba saya seperti hanyut dalam keadaan nenek tua ini, hingga saya tidak berani memulai percakapan atau sekedar bertanya tujuannya kemana.

“Mbo’e lagi sedih nduk” katanya dengan terbata-bata memulai percakapan denganku. Ekspresi wajahnya menampakkan kalau ia sedang terluka. Karena itu lidahku kaku, tak mampu balik bertanya apa yang membuatnya bersedih. Tiba-tiba air matanya mengucur deras, hingga ia tak kuasa melanjutkan perkataannya. Sambil terisak menghapus air matanya dengan handuk kecil ditangannya, ia mencoba melanjutkan kata-katanya.” Mbo kabur dari rumah anak mbo pagi tadi”. Saya tetap diam seribu bahasa, sambil mengelus-elus bahu nenek tua itu dan berkata “Sabar mbo”.

Setelah menghapus air matanya ia melanjutkan perkataannya “Kemarin sore mbo tiba dari kampung ke Yogya, kebetulan bawa batik pekalongan buat dititip dijualan anaknya tetangga di Bringharjo” kali ini nenek berbicara dengan sedikit tenang dan jelas.

“Setelah dari Bringharjo, mbo mampir di rumah anak lelaki mbo di sosrowijayan. Mbo kangen ama anak dan cucu. Tiba dirumah, anaknya mbo belum balik dari kerja. Mbo main-main ama cucu, tapi mantu mbo ga menegur sama sekali. Dianya diam-diam aja ke mbo, mbo pikir lagi capek ngurus anaknya. Ya sudah mbo maklum dan diam juga”.

“Tetapi yang buat mbo teriris, malam harinya. Saat di kamar pengen tidur, mbo mendengar mantu dan anak mbo kelahi. Mbo mendengar mantu mbo bilang, ngapain itu ibu kamu datang disaat kita lagi banyak pengeluaran” tangisnya meledak mengakhiri ucapannya. Mbo’ rindu ama anak dan cucu, mbo ga datang untuk minta-minta” sambil menutupi wajahnya dengan handuk kecil di tangan. Kali ini saya yang mulai menangis, air mataku jatuh tak tertahan membasahi tas salempang di pangkuanku.

Beberapa saat si mbo menangis, dan menutupi wajahnya dengan handuk kecil yang selalu dipegangnya. Aku sendiri menghapus air mata dengan tanganku, menatap nenek tua yang duduk disebelahku. Sepertinya nenek tua ini terluka teramat dalam, hingga tangisannya terdengar begitu pilu. Kukeluarkan air mineral botol yang kubawa dan berkata kepada si mbo “ Mbo, minum dulu”.

Dibukanya perlahan wajahnya,  dan berkata “Terima kasih nduk, mbo ga haus”. Setelah itu ia melanjutkan perkataannya “Mbo hanya punya dua anak, yang laki-laki ini yang paling tua. Yang satunya anak mbo perempuan, ikut lakinya ke Cirebon”.

Mbo tinggal di Lebo sendiri, tapi mbo jualan. Jadi untuk makan sehari-hari mbo masih punya, nda mungkin memberatkan anak-anak. Mbo kalau dikasih duit sama anak mbo, yah mbo terima. Tapi mbo sama sekali ga pernah minta-minta duit ama anak, karena mbo tahu mereka juga punya anak yang akan dibiayai sekolah”.

Perbincanganpun berhenti, ketika bus tiba-tiba berhenti di terminal Magelang. Ada penumpang yang turun dan ada juga yang naik. Akupun turun dari bus menuju toilet, setelah itu singgah di warung untuk membeli cemilan. Saat kenek mulai teriak bergegas saya menuju bus, dan duduk kembali di sebelah nenek tua yang sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduknya.

“Nek, mari dimakan”. Kosodori kantung plastik yang berisi roti dan aneka cemilan yang kubeli di warung tadi, tapi dengan suara pelan ditolaknya “Terima kasih nduk, mbo masih kenyang” katanya. “Oh saya taruh sini yah nek, nanti kalau lapar di makan aja”. Dia pun hanya membalasnya dengan anggukan. Kemudian nenek tua itu kembali ke posisi awal, menatap keluar ke jendela bus.

Tiba-tiba rasa laparku pun hilang, pikiranku menerawang jauh ke kisah pilu nenek tua ini. Sebagai seorang wanita yang berharap kelak akan mempunyai suami dan anak, tentu aku tidak ingin mendapat perlakuan yang sama dari istri anak lelaki jika Allah memberiku rezeki anak laki-laki. Pernah mendengar kata orang  kalau punya anak laki-laki katanya bukan lagi anak kita jika ia telah menikah, tapi sudah menjadi anak orang.

Jauh di lubuk hatiku bertanya, apakah kisah nenek tua ini adalah salah satu dari bukti kata-kata orang?. Astagfirullah, dalam hal ini saya tidak sedang menghakimi perbuatan menantu dalam cerita nenek tua ini, tetapi cerita nenek tua ini adalah pengalaman berharga dalam hidup saya. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan nenek tua ini sehingga saya mengambil banyak pelajaran hidup dan hikmah dari kisah ini.

Sebagai seorang wanita, setelah menikah seolah-olah kita ingin agar suami kita perhatian dan kasih sayangnya tercurah sepenuhnya hanya kepada kita dan anak-anak. Tidak menginginkan sedikitpun ada ruang yang tersisa untuk dia berbagi perhatian dan kasih sayang kepada orang lain. Kita ingin menguasai perhatian, waktu dan hatinya. Dan selalu merasa cemburu jika ia berbagi perhatian itu, meskipun itu hanya kepada ibu kandungnya sendiri.

Kita lupa akan sosok wanita sebelumnya yang berjasa mengantarkannya  menjadi sosok yang sekarang ini. Kita lupa sebelum bersamanya, ia telah berpuluh tahun bersama seorang wanita yang dengan sabar merawatnya sejak ia tidak bisa apa-apa hingga menjadi seperti sekarang ini. Tanpa kita sadari bahwa diri kita belum tentu mampu melakukan pengorbanan sebesar itu, hanya karena ikatan pernikahan hingga kita merasa bahwa dia sepenuhnya milik kita.

Tak kuasa kubendung air mataku hingga akhirnya tumpah juga. Tiba-tiba teringat dengan Almarhumah ibu. Beliau pernah berkata kepadaku, “Nak, jika wanita kelak sudah menikah maka orang tuanya itu adalah suaminya. Dia wajib mendahulukan suaminya ketimbang orang tuanya lagi. Berbeda dengan Laki-laki ketika ia telah menikah maka orang tuanya tetaplah orang tuanya bukan istrinya. Jadi sepatutnya ia masih harus berbakti kepada orang tuanya. Jangan pernah cemburu jika ia memperhatikan orang tuanya, karena itu masih menjadi kewajibannya. Jangan memberikan posisi yang sulit untuk memberinya pilihan antara dirimu dengan orang tuanya, karena disitu tidak ada pilihan. Dia punya punya tanggungjawab kepadamu, dan juga kedua orangtuanya. Justru istri yang baik adalah mengingatkan suaminya ketika ia lupa atau sibuk dan tidak berkabar ke orangtuanya, dukung ia berbakti kepada orangtuanya agar pahalanya juga mengalir padamu”.

Kutarik nafas dalam-dalam, dalam hati aku berkata semoga saya akan selalu ingat akan kata-kata mu Ibu. Semoga kelak jika Allah memberiku suami, aku selalu ingat bahwa ada wanita lain yang juga menanti pelukan hangat dari suamiku. Ada wanita lain yang juga butuh perhatian dan kasih sayang dari suamiku, ada wanita lain yang ingin berbagi canda tawa dengan suamiku. Dan wanita itu akan berharap untuk selalu dirindukan dan diharapkan kedatangannya. Semoga ego ku sebagai wanita mampu terkalahkan oleh niat untuk menemani suamiku berbakti kepada orang tuanya.

Mulai hari ini tercetuslah satu kriteria calon suamiku. Mungkin saya akan menilainya bukan lagi dia yang setiap hari berkabar dan mengatakan sayang padaku (hahayyyyy), tapi mengamati bagaimana ia memperlakukan ibunya. Bukan juga dia yang selalu mengikuti semua keinginanku, tetapi ia yang dengan lembut meluruskanku jika apa yang kuminta adalah hal-hal yang akan menjerumuskannya dalam dosa. Karena jika ia menyayangiku, maka wujud sayangnya bukanlah memberikan semua yang kuinginkan, tetapi membawaku bersama dalam kebaikan. Amin ya Allah.

Dalam lamunan tentang kisah nenek tua dan bagaimana kriteria tentang laki-laki idamanku, hingga membawaku terlelap dalam tidur. Sayup-sayup kudengar suara riuh, aku tersentak bangun. Kutanyakan pada kenek “Mas ini dimana?? “Ini terminal di Semarang katanya”. “Mas aku turun di Tembalang, masih jauh yah??” tiba-tiba dia kaget, “wah lupa aku mba, Tembalang dah lewat”. Waduhhh saya sedikit panik. “Mba bisa turun sini, keluar terminal di sudut ada angkot menuju kampus UNDIP. Mba bisa nanya sama sopirnya” ohh gitu ya Mas, makasih”.

Kulirik nenek tua disampingku, terlihat dia menaruh handuk kecil yang ada di tangannya ke dalam tas. “Nenek turun sini yah?” kataku. “Iyya nduk, mbo turun sini masih harus lanjut naik bus lagi yang kearah Pekalongan” katanya. Sambil berdiri dan saya pun ikut berdiri untuk turun beriringan. Setelah itu dia menodorkan kedua tangannya menyalamiku, dan aku sedikit menundukkan kepala kearah kedua tangannya.” Mari yah nduk, mbo duluan”. “Iya nek” kataku. Kamipun berjalan ke arah yang berlawanan.

Dipublikasi di Semarang | 4 Komentar

Mengejar “Blue Fire” di Kawah Ijen

idjen 7

Kawah Ijen

Blue Fire, alasan mengapa kami memilih Kawah Ijen sebagai destinasi selanjutnya setelah mengunjungi Lombok dan Bali. Meski tahu medannya agak sedikit sulit, tapi karena kami boleh dikata wanderer women. so, lets go…Akhirnya kamipun memutuskan untuk menyeberang melalui pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang.

Kawah Ijen ini terletak diperbatasan antara Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi Jawa Timur. Ada 2 Rute untuk sampai ke tempat ini yakni dari arah utara melewati Situbondo – Sempol (Bondowoso) – paltuding dan dari arah selatan yakni Banyuwangi – Licin – Paltuding. Kami menempuh jalur dari selatan dimana Paltuding merupakan gerbang pos untuk melakukan trekking ke Gunung Ijen.

Spot ini masuk dalam list saya ketika berbincang-bincang dengan “Hanna Gullabo” teman dari Ukraina berkunjung ke Makassar bercerita betapa indahnya menyaksikan api biru dalam gelapnya malam dengan hawa dingin menyelimuti tubuh. Katanya Blue Fire hanya ada 2 di Dunia yakni Iceland di Bagian Eropa dan Kawah Ijen di Banyuwangi Jawa Timur.

Siang itu saat meninggalkan Kuta menuju terminal Ubung banyak deramah yang terjadi, diawali deg-degan menunggu angkot yang tak kunjung tiba hingga macetnya selama perjalanan akibat arus balik. Waktu tempuh yang seharusnya hanya berkisar 4 jam untuk sampai di pelabuhan Gilimanuk molor hingga kurang lebih 7 jam. Mataku tak terpejam dari balik jendela bus, memandang panjangnya antrian kendaran dijalanan yang tak berujung sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam. Hatiku resah jika harus tiba di pelabuhan Ketapang tengah malam dan tidak cukup waktu untuk tiba ditujuan utama kami.

Pukul 21.05 WIB akhirnya tiba di pelabuhan Ketapang, kami telah dijemput teman yang kebetulan orang sana dan berbaik hati untuk mengantar keliling-keliling selama di Banyuwangi. Dari Pelabuhan kami menuju alun-alun kota Banyuwangi untuk makan malam dan mencoba makanan khas kota ini yakni Rujak Sayur. Selesai mengisi perut kemudian berpose sebentar di jalanan dekat alun-alun lalu melanjutkan perjalanan langsung ke Licin untuk mencari penginapan, namun sayang saat itu semesta tak mendukung. Dalam perjalanan menuju Licin tiba-tiba hujan deras, yang mengharuskan kami untuk singgah berteduh karena kedua teman yang menjemput dengan dua sepeda motornya tak membawa jas hujan. Hujan semakin deras memaksa kami untuk terus berteduh hingga tak terasa kami telah berteduh hingga 2 jam lamanya.

Malam semakin larut hanya kami berempat yang terlihat berteduh di emperan sebuah toko. Hanya beberapa kendaraan yang bisa dihitung jari melintas melewati jalan ini. Kota Banyuwangi terlihat sepi malam itu, kulirik jam tangan yang melingkar dipergelangan Lastri ternyata waktu sudah menunjukkan kurang 10 menit pukul 24.00 WIB. Kutarik nafas dalam-dalam dengan perasan campur aduk antara lelah, dingin dan keinginan melihat Blue Fire, dalam hati bergumam sepertinya nasib tidak akan membawa kami untuk melihat Blue Fire malam ini.

Menurut informasi untuk menyaksikan munculnya Blue Fire, sebaiknya melakukan trekking dari pos Paltuding naik ke Puncak gunung Ijen yang berjarak 3 km dengan medan yang mendaki, ditempuh dengan waktu 3-4 jam . Karena Blue Fire hanya akan keluar mulai pukul 01.00 – 03.00 WIB, sehingga selambat-lambatnya pukul 22.00 WIB sudah berada digerbang pendakian untuk trekking menuju puncak.

Setelah berdiskusi bersama “Lastri” travelmate saya, akhirnya kami memutuskan untuk tidak memaksakan kesana malam itu dan mencari penginapan disekitar kota Banyuwangi saja. Namun tetap akan berkunjung kesana setelah sholat subuh, dan mengejar Sunrise yang konon katanya merupakan Sunrise pertama yang ada di pulau Jawa. Dari kota Banyuwangi menuju licin itu akan ditempuh dengan jarak 15 Km dan dari Licin menuju Paltuding itu akan ditempuh 18 Km dengan jalan yang mendaki dan berkelok-kelok serta sedikit rusak.

Namun sangat disayangkan sekali, Blue Fire tak dapat begitupula Sunrise, kami tiba di pos Paltuding pukul 06.10 WIB setelah meninggalkan kota Banyuwangi pukul 04.35 WIB selepas sholat subuh. Namun kami tetap kesana karena penasaran dengan Kawah yang terbesar di Dunia yang derajat keasaman 0,8 hingga 0.

idjen 8

Jangan berlama-lama asapnya beracun

idjen 5Sempat shock begitu lepas dari pos Paltuding langsung dihantam dengan pendakian sepanjang 1,5 Km sementara tanpa pemanasan sama sekali, meski ngos-ngosan tapi tetap semangat kala berpapasan dengan orang-orang yang hendak turun setelah berada dipuncak malam hari dan menyaksikan Blue Fire atau sesama pengunjung yang baru juga akan menuju ke puncak ” Hayyooo mba,,,semangat, bentar lagi nyampe jangan sampe kesiangan lohh” padahal sebenarnya masih jauh. Ohh iyya saya lupa, kawah ini mengeluarkan asap belerang yang beracun dan sebaiknya tidak berada di puncak hingga pukul 10.00 WIB. Saat di gerbang pos sebelum melakukan trekking di tempat pembelian karcis ada larangan bagi penderita jantung, asma, dan darah tinggi sebaiknya tidak mendaki ke gunung ini.

idjen 3

Pemandangan Indah Menuju Puncak Ijen

Saat ngos-ngosan, saya memilih memperlambat langkah dan sesekali duduk di tepi jalan sambil tarik nafas dalam-dalam dan tak lupa mengambil gambar. Ada yang menarik dari puluhan orang yang lalu lalang di depan saya, bapak-bapak setengah baya memikul dua keranjang dibahu berjalan dengan sedikit tergopoh-gopoh. Raut wajah yang keras, tegang, pandangan mata yang sayu dan lemah seolah mengisyaratkan tekanan kehidupannya.

idjen 9

Belarang yang biasa  dipikul oleh penambang

“Dia penambang belerang” kata Alvin teman yang mengantar sekaligus jadi guide kami, seolah menangkap apa yang ada dipikiran saya karena memandangi penambang belerang yang lalu lalang dengan tatapan tanpa berkedip. “Dibahunya terpikul beban 70 – 80 Kg belerang dan memikulnya dengan medan mendaki sejauh 3,5 km yang setibanya di bawah akan dihargai Rp 900 – Rp 1000. Ada juga yang telah dijadikan souvenir dan dijual mulai harga Rp.5000 hingga Rp 15.000. Sungguh sayang sekali karena saya tidak sempat bercerita langsung pada salah satu penambang belerang yang lewat dan mengambil gambarnya karena kami buru-buru untuk mencapai puncak agar tidak kesiangan.

 

 

 

FB_IMG_1453764089699

salah satu souvenir yang kubeli

Setelah tiba dipuncak dan berfoto-foto sekitar kawah, kami bergegas ke bawah kembali karena matahari makin meninggi. Kami tiba di Pondok Bunder, dekat pos itu ada warung yang menyediakan kehangatan uppss yang hangat-hangat maksudnya seperti kopi, teh hingga mie seduh instan. Karena perut kami keroncongan belum sarapan, kamipun memesan mie instan. Begitu pesanan kami datang, tiba-tiba mas Alvin nyeletuk “Mba, jangan langsung dimakan, emang ga berasa panasnya tapi entar setelah itu bibirnya akan terkelupas” ohh ya??? Kata saya, “Okay, berarti biarkan aja dulu beberapa menit. Selesai sarapan kamipun berfoto-foto sekitar pondok bunder dan membeli souvenir dari belerang, tolong jangan ditawar karena souvenir ini hanya dihargai Rp 5.000 – Rp 15.000 sesuai ukurannya. Karena dengan melihat langsung proses penambangan dan cara mengangkutnya pasti anda tidak akan tega untuk menawar dibawah harga lagi.

 

 

idjen 2

Nah Cerita mengejar Blue Fire ini, ditutup dengan sedikit insiden yang hampir saja membawa petaka. Dalam perjalanan pulang dari Paltuding menuju Licin, ada kelokan berbentuk S yang menurut saya terjal. Saat berangkat tadi pagi di tanjakan ini dengan terpaksa saya harus turun dari sepeda motor matic yang dikendarai teman saya, karena sudah tidak mampu menanjak . Tetapi bukan insiden saat berangkat yang akan saya ceritakan, tetapi sepulangnya kami dari Ijen. Memang untuk motor matic tidak disarankan untuk melewati jalur ini, karena belakangan saya tahu kalau 6 Km sebelum mencapai Paltuding dari Licin ada tanjakan yang dikenal terjal namanya tanjakan erek-erek .

Saat melewati jalur ini tiba-tiba saya merasa sepeda motor melaju kencang, dalam keadaan tegang saya mencoba bercerita dengan teman saya, “Mas ini wilayah apa namanya”???teman saya hanya mengatakan satu kata “iya”. Aneh, dalam hati saya berkata “apa dianya lelah yah atau lagi malas ngobrol”…Yaaa sudahlah, ehhh tapi ko’ teman saya menurunkan kakinya yah ???belum juga sempat saya mencari tahu tiba-tiba motor oleng karena menghindari mobil yang berhenti dipinggir jalan, huffttt serasa jantung saya mau copot. Belum juga saya menarik nafas lega, Buaarrrrrrr saya tidak tahu apa yang terjadi hingga saya tahu kalau saya terlempar dan jatuh cantik dibawah sebuah pohon ditepi jurang. Dan disamping saya mas Alvin tertindis motor, saya mencoba bangkit untuk mengangkat motor itu namun saya tak kuat sampai akhirnya teman yang satunya bersama Lastri datang untuk membantu saya. “Maaf…Maaaf….Maaaf mba, Remnya Bloong sejak diturunan tadi” kata Mas Alvin. “Saya ga mau mba shock jadinya saya ga cerita. “Ingat ga’ waktu tadi kamu ngajak aku cerita, cuma kujawab iyya karena lagi konsen nyari cara gimana motor ini bisa berenti sementara penurunan ini masih panjang”. “Nah, Saat ngeliat pohon ini, saya banting aja motor kearah ke pohon ini daripada nanti nabrak orang……”Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas pertolonganMu, terima kasih ya Allah engkau telah menyelamatkan kami “kataku dalam hati.

idjen 4

Keep Smile, Selamat Pagi…..

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | 7 Komentar

Debaran Menembus Batas Thailand dan Malaysia

No Cameratiba-tiba dua kata yang diucapkan dengan nada keras membuat jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mengucur, dengan wajah pucat pasi aku memberanikan diri menoleh untuk mencari sumber suara itu. Alamaaaak cepat dan tak sempat berkedip tiba-tiba beberapa polisi yang berada disekitar loket check passport berdatangan mengerumuni kami. “Give me your Camera, come on”…itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh salah seorang polisi itu dengan menengadahkan tangannya kearah teman saya yang sementara memegang kamera.

Duuug, jantung saya seperti hampir berhenti berdetak. Kaget namun bingung, saya pun memberanikan diri bertanya “Excuse me sir, sorry what happen??” namun bukan jawaban dari pertanyaan saya yang dijawab tetapi secepat kilat tangannya meraih kamera yang sementara dipegang oleh teman saya yang sejak tadi cuma pucat dan bengong melihat beberapa polisi ini. Dengan sigap jemarinya menekan tombol di kamera tanpa memperhatikan mimik kami yang semakin pucat dan bingung. “Delete…delete…delete…begitu seterusnya, setelah itu diapun mengatakn kepada kami “Not Good” kemudian menunjuk ke arah loket pemeriksaan pasport. Astagfirullah, dengan wajah merona menahan malu dan sedikit tersenyum kami berdua saling bertatapan kemudian meminta maaf kepada polisi itu “Sorry sir, I didn’t see it” ternyata di loket itu ada gambar dan tulisan dilarang mengambil gambar. Sambil berlalu saya dan teman saya mendekap tangan dan terus mengucapkan maaf, namun mereka hanya menatap kami nyaris tanpa ekspresi. Apa karena mereka kurang memahami kalimat kami ataukah mereka masih kesal?entahlah…Saya pun maju ke depan loket karena telah tiba giliran saya untuk melewati loket pemeriksaan paspor ini.

Alhamdulillah pemeriksaan berjalan lancar, padahal sebelumnya kami masih pucat dan tengah berpikir akan dipersulit karena telah melakukan kecerobohan tadi. Sambil menahan malu kami pun berdua kembali ke inivan yang kami sewa dari Hatyai menuju Penang. Minivan ini memuat 7 orang penumpang ditambah 1 orang sopir, dan kelima penumpang diluar kami adalah tourist bule yang untungnya tidak pernah pusing dengan urusan orang dan cuek saja saat kami naik ke minivan yang telah menunggu kami berdua sejak tadi.

Ide untuk melakukan perjalanan darat menembus batas antar negara ini tercetus setelah kami memutuskan berpisah, dikarenakan tiga orang dari kami berlima saat telah berkeliling di Bangkok dan Pattaya memutuskan terbang ke Krabi di bagian selatan Thailand karena ingin menikmati indahnya pantai yang dulunya pernah menjadi tempat syuting film “The Beach” yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio sedangkan kami berdua suka dengan culture dan peninggalan bangunan-bangunan kuno  sehingga lebih memilih mengunjungi Penang yang masuk dalam UNESCO World Cultural  Heritage Site.

Malam itu sepulangnya kami dari Pattaya kami memutuskan untuk lansung menuju Stasiun Kereta Hualamphong membeli tiket Kereta Api untuk perjalanan kami berdua sedangkan ketiga teman kami telah jauh hari memesan tiket pesawat via online untuk penerbangan mereka ke Krabi. Saat berada di loket pembelian kami sulit berkomunikasi dengan petugas loket karcis dikarenakan tidak terlalu fasih berbahasa Inggris dan saya sendiri tidak tahu sama sekali berbahasa Thai kecuali kata ini “Khob Khun Ka” agar terkesan sopan, sehingga apa yang disampaikan oleh petugas loket sambil menunjuk kearah denah seat di Kereta kami jawab dengan “yes…yes..yes“..karena sebelumnya kami telah mengatakan akan membeli tiket dengan menuliskan tanggal 21 April 2015 ke selebaran kecil kertas yang dia berikan. Sambil mengecek layar monitor komputer di depannya tiba-tiba dia bertanya kepada saya dan saya cuma bengong karena tidak mampu menangkap apa yang dia sampaikan dalam bahasa Inggris, hanya ujung kalimat yang sempat saya dengar ” upper…upper sesekali tangannya menunjuk ke atas dan saya berasumsi kalau yang dia maksud adalah kipas angin, maklum kami memesan sleeper train karena mengingat perjalanan jauh dengan 17 jam perjalanan tiba di stasiun Hatyai. Sekali lagi kami cuma bilang “yess sir…yess. yesss”itu karena kami juga telah lelah dan telah berangan-angan saat itu telah berbaring di kasur empuk sebuah hostel yang sebenarnya belom masuk dalam daftar pemesanan online penginapan sehingga yang ada dalam pikiran kami segera menyelesaikan urusan tiket untuk bergegas mencari hostel sekitar stasiun kereta ini. Tanpa menunggu lama, akhirnya tiket pun telah kami dapatkan dan membayar sesuai dengan nilai yang tertera pada tiket ini.

kereta tiket.jpg

Abaikan Tulisan yang tak dimengerti yang penting jelas Bangkok-Hatyai nama pemegang tiket dan jadwal keberangkatan

Hualamphong

Stasiun Hualamphong Bangkok

Setelah dalam perjalanan yang seharusnya tiba 17 jam setelah keberangkatan sesuai dengan yang tertera ditiket, namun kenyataannya kami tiba 23 jam setelah keberangkatan. Tibalah kami di Hatyai, kota perbatasan Thailand-Malaysia. Biasalah wanita sedikit narsis dan tidak melewatkan momen berfoto meski keburu waktu, karena melihat jam dinding yang ada sudah menunjukkan pukul 03.30 pm. Segeralah kami masuk untuk mencari ruangan sholat karena belum sholat asar untuk selanjutnya bergegas mencari Minivan yang masih akan mengantarkan kami ke Penang Malaysia.

Hatyai

Selesai sholat kami meninggalkan stasiun, berjalan keluar dan mencari-cari tempat pembelian tiket minivan. Alhamdulillah, tidak jauh didepan kami berdua menemukan tulisan travel penjualan tiket Minivan ke Penang dan beberapa kota lainnya lagi di Malaysia. Tawar menawar terjadi karena kami berdua telah kehabisan Bath sehingga pembelian tiket akan kami lakukan dengan mata uang Ringgit. Tidak masalah sebenarnya karena mereka masih menerima, namun setelah dihitung-hitung ternyata agak mahal sedikit ketika menggunakan Ringgit ketimbang Bath, mengingat kita masih berada di negara Thailand..

Tiket telah ditangan, kami diberitahu untuk menunggu sekitar 15 menit dan setelah gelisah menunggu akhirnya yang dinanti pun datang. Enggg ing eeengggg yang datang bukan Minivan seperti yang kami pikirkan, saya dan teman saya bertatapan terus tersenyum apa defenisi minivan di kota ini berbeda kali yaaa….heeee. Dikarenakan penyampaian tempat kami membeli tiket katanya pemberangkatan Minivan paling akhir menuju Penang itu pukul 05.00 pm sementara saat itu waktu telah menunjukkan pukul 04.50 pm sehingga tanpa pikir panjang kami naik saja daripada kami harus menunggu hingga esok hari untuk berangkat sementara esok malam kami telah membeli tiket penerbangan Penang ke Singapura.

IMG_3046

Berdasarkan informasi melalui searching dan membaca beberapa blog, waktu tempuh hatyai ke Penang itu sekitar 2-3 jam tanpa aba-aba bapak sopir, kamipun segera bersandar kekursi untuk segera melepaskan sejenak lelah karena telah menempuh perjalanan sehari semalam. M eskipun kereta yang kami tumpangi itu mempunyai tempat tidur sehingga jadwal tidur kami tidak terhambat, malah kelebihan tidur karena suntuk dan bingung harus buat apa selama di kereta tapi toh kami tetap merasakan lelah juga. Tiba-tiba mobil ini berhenti di depan sebuah agent travel lagi, sopirpun turun berdiskusi kepada pegawai didalam dan menurunkan kami, kami bingung lagi…ini apa lagi toh???setelah barang diturunkan dan diletakkan kedalam kantor agen travel tadi barulah kami membaca dan melihat ternyata tadi yang kami singgahi membeli tiket sebelumnya adalah penghubung, kena deeeehhhhh….!!!!!! Ini terlihat dengan harga tiket yang dibawah dari harga yang ditawarkan kepada kami…..hmmmmmm, mau diapa lagi suka tidak suka telah terjadi ya, Ikhlas sajalah dan berdoa semoga perjalanan kami lancar dan tiba dengan selamat di tujuan. Amin.

Chao Vang Travel

Tepat di depan Travel ini kami diturunkan…

Kami tetap berbahagia meski sempat kecewa tadi karena merasa dibodohi, namun tetap bersyukur kami bisa berangkat ke Penang sore itu juga sehingga jadwal dan tiket yang telah dibeli untuk penerbangan besok tidak sia-sia…Sekitar 1,5 jam setelah kami meninggalkan hatyai tibalah kami di perbatasan Thailand – Malaysia yakni Imigrasi Sadao untuk cap passport bahwa telah meninggalkan Thailand. Setelah adegan yang mendebarkan seperti yang saya ceritkan di awal tadi telah kami lewati tidak jauh dari check point imigrasi ini sekitar kurang lebih 500 m berjalan kita memasuki lagi Imigrasi untuk cap passport bahwa memasuki wilayah Malaysia di Imigrasi Bukit Kayu Hitam Kedah. Setelah berurusan dengan cap pasport tanda masuk, kami melanjutkan perjalanan menuju Georgetown yang ada di Pulau Penang sesuai alamat hostel yang akan kami tempati melepas penat malam itu. Alhamdulillah kurang lebih satu jam kami tiba di Georgetown yakni sekitar pukul 07.40 pm.

Penang

Welcome to Georgetown…

Ada beberapa catatan yang perlu kami jadikan masukan, jika akan melakukan traveling mandiri terutama bagi traveler pemula yakni baru pertama kali mengunjungi tempat tersebut :

  1. Perbanyak Informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi bukan hanya pada spot wisata yang akan dikunjungi tetapi semua wilayah atau tempat yang bakal kita lewati seperti halnya jadwal minivan yang akan ke Penang, untung saja kereta cuma molor hingga 23 jam bagaimana seandainya 25 jam itu berarti kita akan menginap di Hatyai dan keesokan harinya barulah ke Penang dan pasti akan merusak jadwal yang telah dibuat terlebih lagi kalau kita telah melakukan pembelian tiket pesawat untuk pemberangkatan selanjutnya.
  2. Ketika memasuki suatu tempat se worth it apapun jangan lupa untuk mengamati sekeliling dan membaca semua peraturan yang tertera. Pasang mata sekeliling agar kejadian kami di Imigrasi Sadao tidak terulang. Untung saja tidak ada denda yang diberikan…heeee…
  3. Membuat itinerary sebelum berangkat itu juga baik tetapi sebaiknya jangan dibuat terlalu padat list kunjungan untuk berjaga-jaga siapa tahu kejadian molor dijalan seperti yang kami alami, untung saja Allah masih menyayangi kami sehingga tidak ketinggalan mobil.
  4. Mencatat kata-kata penting untuk bertanya dalam bahasa setempat untuk dibawa-bawa untuk memudahkan berkomunikasi jika bertemu seseorang yang ingin ditanyai dan tidak bisa berbahasa International karena mengingat jika mengandalkan searching sementara tanpa diduga hp kita lowbat, atau jaringan tidak ada, atau malah seperti kami yang tidak membeli kartu dan hanya mengandalkan WiFi saat berada di hotel saja.
  5. Jika ingin membeli tiket dan sebagainya hindari membeli yang berada terlalu dekat dari pusat persinggahan misalnya terminal atau stasiun dikarenakan harga biasanya agak dinaikkan dari yang sebenarnya, sebaiknya berjalan-jalanlah sekeliling jika mempunyai waktu cukup dan bertanya pada banyak tempat untuk memperoleh perbandingan harga dan usahakan banyak bertanya dan perjelas sebelum memutuskan untuk deal.

 

Dipublikasi di Trip Pecah Telor | Meninggalkan komentar