Semalam di Bandara Changi

IMG_20150424_093625

Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Tak Berkategori | 3 Komentar

Jangan ke Pare

Tulisan ini sebenarnya akan saya tulis ketika saya meninggalkan kota ini, dan sudah setahun lebih tersimpan sebaga draft. Takut mewek saat menuliskannya, hingga tertunda sampai saya benar-benar bisa move on akan kenangan tempat ini (haseeek). Sekarang saja saat menuliskan ini saya masih terbawa suasana hati nyaman di kota ini (Heyaaaaaa). Pare adalah salah satu kota yang meninggalkan kesan mendalam diantara beberapa kota yang pernah saya kunjungi.

Ide mengunjungi kota ini dari sahabat saya Mita yang saat itu berkeinginan untuk resign sebagai dosen di salah satu kampus di Makassar karena ingin balik ke kota asalnya Jakarta dan saya sendiri yang saat itu bekerja sebagai konsultan pada program pemberdayaan masyarakat. Kami sepakat untuk mengisi waktu luang sebelum sibuk-sibuk berikutnya dengan berada di Pare yang dijuluki sebagai Kampung Inggris, karena kami berdua bahasa Inggrisnya kacau di grammar dan sama-sama punya cita-cita ingin lanjut kuliah lagi yang mana syaratnya harus memiliki nilai Ielts atau Toefl yang syarat skornya belum pernah kami capai.

Mengapa memilih Pare? kami mendengar kalau di Pare ini  kita lebih mudah mengasah keterampilan Bahasa Inggris dengan cepat karena frekuensi belajarnya yang padat, harga yang terjangkau dan juga pastinya suasana yang sangat nyaman dan mendukung dalam proses belajar yang lebih santai. Pare terkenal sebagai tempat pelarian paling elit daripada jombloers dan jobless tsaaaaah. Nah, itu yang paling cocok untuk kami karena kena dua-duanya. Kata Mita gapapa kan sambil menyelam minum susu (sambil belajar sambil senter-senter pangeran. Mana tahu ketemu pasangannya tulang rusuk yang selama ini dicari hehehehe mulai bermimpi).

Penerbangan Makassar – Surabaya 29 Juli 2016 menjadi awal petualangan saya dan Mita mengejar Cita dan  Cinta ( Ini khusus buat sahabat saya yang kala itu lagi dilanda virus merah jambu oleh seseorang yang berasal dari Jawa Timur…uppssss ). Siang setibanya di bandara Juanda kami bergegas mengambil barang yang sejak awal membuat kami rempong. Bagaimana tidak,barang bawaan persiapan 4 bulan dan juga jaket tebal persiapan mengikuti Dieng Culture Festival membuat barang bawaan kami membengkak.

Bandara

Yeey katanya barangnya persiapan setahun

Selesai mengurusi barang bawaan yang super duper berat akhirnya seiring dengan berdendangnya kampung tengah yang menari-nari butuh perhatian, kami sepakat mencari tempat makan di bandara sambil menghubungi travel yang akan mengantar kami ke Pare. Sambil makan kami disibukkan menghubungi satu-satu nomor kontak mobil travel yang diberikan oleh salah satu kawan yang dulunya juga pernah berada di Pare. Setelah sekian lama akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada travel yang memberikan harga yang murah (Biasalah kami ini berdua wanita paket hemat…heee).

Cukup lama menunggu mobil travel, akhirnya si dia yang kami rindukan nantikan sejak tadi yang jika dihubungi selalu mengatakan sudah dekat ini muncul juga. Untung dia muncul dengan membawa senyuman manis dan permintaan maaf sehingga kami batal kesal akibat 3 jam dibuat menunggu. Bergegas ia mengambil barang bawaan kami dan memasukkannya ke bagasi mobil. Ternyata mobil ini sudah diisi oleh seorang ibu-ibu yang telah mengambil tempat tepat disebelah sopir. Alhamdulillah kami tidak perlu saling dorong mendorong siapa yang akan menjadi pendamping sopir selama perjalanan.

Akhirnya kami berdua duduk di belakang sopir. Kulirik jam yang tertera di layar hp,ternyata menunjukkan pukul 17.05 WIB dan katanya waktu tempuh perjalanan dari Surabaya ke Pare itu  ± 3 jam. Sepertinya perjalanan ini akan saya lewatkan dengan mendengar musik lewat headset  saja atau malah akan tertidur di mobil. Bagaimana tidak, pak sopir sibuk bercerita dengan ibu-ibu yang duduk sebelahnya dengan menggunakan bahasa jawa ( yang hanya mboten yang saya pahami artinya), dan jangan tanya samping saya lagi ngapain, karena sejak statusnya check in di bandara Surabaya hp nya terus bersahut-sahutan mendapat pesan cinta sang idola. Saya yakin dia sudah tidak merasakan lapar dan haus seperti yang saya rasakan, juga tidak merasakan beratnya tas carrier 60 L yang ia gendong di punggungnya. Saat itu dunia hanya miliknya dan sang idola huft. Sepanjang perjalanan matanya hanya tertuju pada layar hp dan diiringi senyum-senyum hingga membuat wajah putihnya terlihat merona. Daripada baper karena hp saya tidak berdering sedikitpun, yah sudah saya memilih menikmati sunset dari balik kaca jendela mobil sambil dengar musik.

Lewat isya kami memasuki kawasan yang telihat banyak orang-orang yang bersepeda. Nah, ini pasti sudah wilayah Pare kataku dalam hati. Karena ciri khas kota ini dimana kendaraan yang digunakan para siswa untuk kemana-mana adalah sepeda. Tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara pak sopir “mbak ini udah jalan Brawijaya, tempat temannya yang mana”? Chafa mas, sebelah kanan jalan kata temanku, kataku menjawab pertanyaan sopir. Tidak berselang beberapa meter, tiba-tiba kami melihat plang sebuah rumah kost bertuliskan Chafa. “Mas tolong berhenti, sepertinya kost teman saya yang ini”. Sambil menarik hp dan menghubungi nomor kontak yang diberikan teman saya dari Makassar. Tidak berselang lama akhirnya kami disambut adik Inna cantik yang sengaja keluar ke halaman untuk menjemput duo gadis rempong nan ayu. Inna ini adalah temannya teman saya (Eng) yang dikenalkan hanya lewat hp untuk menampung kami selama belum menemukan kost yang asalnya sama-sama dari Makassar. Dia yang akan kami buat repot menumpang semalam di kamarnya  untuk menitip tas-tas karena belum mencari kost. Sengaja belum mencari kost karena esok harinya kami akan melanjutkan perjalanan ke Solo. Kami masih punya waktu 11 hari untuk traveling sekaligus menghadiri Dieng Culture Festival. kami tiba di Pare  akhir bulan sedangkan kelas akan dibuka hanya setiap tanggal 10 dan 25 setiap bulan.

sepeda

Welcome Pare

Baiklah saya akan langsung saja bercerita mengapa Pare begitu berkesan bagi saya. Sekembalinya dari Traveling selama 11 hari, kami kembali lagi ke Pare untuk segera mencari camp dan mendaftar di lembaga kursus yang akan kami pilih. Berdasarkan saran beberapa teman kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada lembaga kursus ELFAST, namun tidak mempunyai kesempatan untuk berada di camp nya karena saat itu sudah penuh. Akhirnya kami memilih camp yang tidak jauh dari ELFAST.

Ma Ashfi

Adek-adek yang kami tumpangi saat pertama mendarat di Pare. Mengajak kami gaul di Tansu. Katanya jika belum ke Tansu, belum sah jadi warga Pare

Hari pertama belajar masih biasa saja. Mungkin belum akrab, belum kenal satu sama lain sehingga saya merasa tidak enjoy. Belum lagi malam pertama di camp dibuat kaget, pintu digedor-gedor pukul 04.00 WIB dengan suara yang nyaring “Pray…Pray…Pray” kata-kata itu yang terus diteriakkan sampai seisi camp bangun oleh salah seorang yang kami sebut “Miss” yang bertugas mendampingi kami untuk berlatih bahasa Inggris di dalam camp. Bahkan hari-hari berikutnya saya malah terserang demam dan diare beberapa hari.

Di kelas kami berasal dari berbagai daerah di seluruh penjuru tanah air mulai dari Sabang hingga Merauke wkwkkw (maksudnya dari Sumatera hingga Papua). Kami berbaur dari berbagai latar belakang. Ada yang masih pelajar SMU memanfaatkan libur sekolah, ada yang fresh graduate yang mengisi waktu luang sebelum bekerja, bahkan ada yang sudah bekerja namun resign karena ingin lanjut kuliah.

Nanti setelah kelas berjalan seminggu lebih barulah saya mulai beradaptasi. Berkenalan dengan teman-teman hingga janjian makan, nongkrong dan jalan-jalan bareng. Kelas BP1 menjadi kelas pertama saya dan Mita yang akhirnya dipertemukan dengan beberapa teman yang bisa seperti saudara sampai saat ini.

FB_IMG_1519404432708

Orang-orang yang berada di kelas grammar yang tidak Muntaber (Mundur tanpa berita)

Setelah sebulan berada di camp dan sahabat saya Mita tidak betah, akhirnya kami memutuskan mencari kost yang lebih santai dan tidak terikat banyak aturan. Seminggu sebelum masa sewa berakhir, kami mulai mencari-cari kost yang nyaman di hati dan nyaman di dompet. Setelah beberapa hari sana sini survey akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada kost puteri EDELWEIS  yang juga terletak diporos  jalan Brawijaya. Selain karena suasana nyaman, ibu kostnya juga ramah dan baik.

Ternyata di Kost inilah akhirnya kami menemukan tambatan hati teman rasa saudara yang membuat saya dan Mita akhirnya betah selama tiga bulan dan tidak pernah berniat pindah ke tempat yang lain. Di kost inilah banyak kenangan indah, lucu, yang akan selalu kami ingat. Bertemu anak-anak yang sama gilanya, heboh, dan kacaunya membuat saya merasa nyaman untuk berlama-lama dsini.

Ada beberapa kisah yang tidak pernah kami lupakan, ketika hari ahad kita sering belanja bareng untuk masak-masak ke pasar tradisional sambil bersepeda pagi (Jangan ditanya bagaimana sulitnya kami mencari cara dan main petak umpet untuk bisa lolos memasak, karena sebenarnya tidak diizinkan oleh ibu kost heeee).

Pernah suatu subuh saya disemprot oleh ibu kost, karena tiba-tiba lampu padam karena sekring listrik turun dan kami ketahuan sedang menyalakan rice cooker serta pemanas air karena kami bangun makan sahur untuk puasa sunnah, meskipun bukan milik saya, namun kami menikmatinya bareng-bareng dan karena sayalah yang diangkat jadi emak oleh mereka, maka sebagai emak wajib melindungi anak-anaknya dari amukan harimau ibu kost. Juga ketika kami pernah ditolak penjual krengsengan karena kami hanya memesan 3  porsi krengsengan dengan meminta 9 porsi nasi (ketahuan pahe nya kami). Hal lainnya, saat antri kamar mandi di subuh hari karena kamar mandi di kost hanya ada tiga dan banyak diantara kami yang punya jadwal masuk kelas pukul 05.30 WIB.

Bahasa sayang kami memanggil tidak dengan sebutan nama namun asal daerah. Ada yang dipanggil cik (karena berasal dari Riau), ada yang dipanggil sunda, Jawa, padang, Batak, Makassar. Dan saya sendiri dipanggil emak oleh mereka (ketahuan paling tuir diantara mereka). Di tempat ini untuk pertama kalinya sholat tahajjud sering kami lakukan berjamaah begitu juga puasa sunnah. Selepas magrib, suasana kost riuh dengan suara mengaji dari teras depan TV tempat kami berkumpul untuk sholat magrib. Mengikuti kajian setiap pekan di mesjid bersama mereka. Semua ini takkan terlupakan. Juga ketika mereka yang berasal dari kota yang tidak jauh dari Pare dibesuk oleh orang tuanya dan dibawakan makanan, kami akan heboh teriak-teriak gantung panciiii.

DSC_0008

Teman-teman  rasa saudara

Pare adalah kota yang banyak membawa pengalaman dan perubahan baru dalam hidup saya. Hanya di Pare  saya masuk kelas jam 05.30 WIB, yang jika di Makassar jam segitu saya masih berselimut di tempat tidur selepas sholat subuh  atau sesekali di dapur. Hanya di Pare saya rutin mandi subuh karena takut keduluan dan telat masuk kelas. Hanya di Pare saya menikmati deringan sepeda lalu lalang dan mulai riuh di pukul 05.00 WIB oleh orang-orang yang menuju tempat kursus. Hanya di Pare saya duduk belajar bersama dan saling berbagi ilmu dengan orang-orang yang umurnya jauh di bawah bahkan di atas saya. Hanya di Pare saya melihat sepanjang jalan yang muda maupun yang tua namun berjiwa muda serius berlatih dan berpidato bahasa inggris dan tidak memedulikan orang-orang yang lewat. Hanya di Pare saat belajar di kelas dan adzan berkumandang tutor kami menghentikan sesaat dan mengajak kami untuk sholat bersama. Dan hanya di Pare saya melihat mushollah tempat kursus padat saat adzan berkumandang hingga kami kadang menunggu untuk bergantian sholat karena tidak mendapat tempat.

DSC_0113

gila-gilaan bareng ma adik-adik penghuni Edelweis Camp

sholat camp

Suasana selepas Magrib, ngaji bareng

FB_IMG_1507042183569

Abis pengajian, foto bareng gadis Melayu dan gadis Sulawesi

Semua hal di atas masih melekat dalam ingatan saya, hingga membuat saya ingin segera kemabli ke tempat ini. Saya merindukan tempat ini. Untuk itu pesan saya, JANGAN PERNAH KE PARE, KAMU PASTI AKAN RINDU. Rindu itu teramat berat, cukup saya saja, kamu jangan.

PARE, I’M In Love.

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | 2 Komentar

Kasmir is Heaven of the World

Pernah menonton film Bollywood berjudul “ Bajrangi Bhaijaan”? Jika belum, sebaiknya segeralah menontonnya. Film yang booming di tahun 2015 yang seketika menggeser kedudukan film 3 Idiots yang selama ini Sebagai film bollywood yang paling banyak ditonton dalam sejarahnya di televisi dengan kata lain rating paling tinggi sepanjang masa telah membuat saya berani dan nekat untuk menjejakkan kaki ke tempat ini. Film ini merupakan film drama komedi india tahun 2015 yang disutradarai oleh Kabir Khan yang diproduksi oleh Salman Khan dan Rockline Venkatesh. Film ini telah dirilis di seluruh dunia pada 17 Juli 2015.

Kasmir is Heaven of the world.
A garden of eternal spring dan an iron fort to a palace of kings menjadi julukan Kashmir atas keindahan alamnya yang luar biasa. Namun nasib rakyat Kashmir tak seindah dengan julukannya, mereka hidup dalam kegetiran dan ketakutan.

P_20160317_101519

Welcome to Srinagar International Airport

Kashmir adalah sebuah wilayah di utara sub-benua India. Istilah Kashmir secara sejarah digambarkan sebagai sebuah lembah di selatan dari ujung paling barat barisan Himalaya. Secara politik, istilah Kashmir dijelaskan sebagai wilayah yang lebih besar yang termasuk wilayah Jammu, Kashmir, dan Ladakh. “Vale of Kashmir” utama relatif rendah dan sangat subur, dikelilingi oleh gunung yang luar biasa dan dialiri oleh banyak aliran dari lembah-lembah. Dia dikenal sebagai suatu tempat paling indah spektakuler di dunia.

Srinagar ibu kota kuno, terletak di dekat Danau Dal, dan terkenal karena kanal dan rumah perahunya. Srinagar (ketinggian 1.600 m atau 5.200 kaki) tepat di luar kota terdapat taman Shalimar yang indah dibuat oleh Jehangir, kaisar Mughal, pada 1619. Wilayah ini terbagi oleh tiga negara: Pakistan mengontrol barat laut, India mengontrol tengah dan bagian selatan Jammu dan Kashmir, dan Republik Rakyat Tiongkok menguasai timur laut (Aksai Chin).

DSC_0043

houseboat in Dal Lake

Kashmir merupakan salah satu wilayah rebutan terkenal di dunia, dan kebanyakan peta buatan Barat menggambarkan wilayah ini dengan garis bertitik untuk menandai batasan yang tidak pasti. Karena perebutan oleh tiga negara inilah sehingga konflik terus menerus terjadi di wilayah ini. Pernah membaca sebuah tulisan di blog, mengapa Kashmir berada dalam wilayah India yakni Ketika kerajaan Moghul jatuh. Kashmir jatuh ke tangan kaum Sikh. Setelah kaum Sikh kalah dalam peperangan tahun 1846, Kashmir diserahkan kepada maharaja Sulab Singh seorang Hindu kasta atas dari Yammu oleh Inggris dengan membayar 1 juta pound.

Hingga kini India masih mengklaim Kashmir menjadi wilayahnya, meski masyarakat Kashmir menolak dan tidak mengakui India sebagai bangsanya.Ini terlihat dimana umat Islam di India bagian selatan menggunakan bahasa urdu dan hindu di India menggunakan bahasa Hindi sementara Kashmir sendiri menggunakan bahasa yang disebut Kashmiri. Saya tidak melihat pakaian saree digunakan oleh orang Kashmir, malah ketika berada disana, saya serasa berada di Afganistan atau Pakistan. Begitupula secara bentuk wajah dari mereka.

P_20160319_102625

Saya pernah diajak makan siang oleh salah satu warga lokal yang kebetulan seorang pendiri bikers di Srinagar, dengan ramah dia bercerita banyak hal termasuk konflik yang terjadi. Sayapun bertanya kepadanya, “ Dari ketiga negara yang memperebutkan, mana yang kalian pilih??” dia menjawab sambil senyum “ Kashmir memilih kemerdekaannya sendiri. Namun jika hati kami disuruh untuk berpihak, maka kami memihak ke Pakistan. Nanti malam kamu bisa menonton pertandingan kriket, jika di hotel kamu mendengar suara riuh sorak gembira itu berarti Pakistan yang menang. Tentu saja ini dalam bahasa Inggris namun intonasi India heeee  namun kali ini tanpa goyangan kepala.

P_20160320_085656

Pertama mendarat di Bandara Srinagar ibukota Kashmir, jantung saya mau copot. Bayangkan melihat tentara yang terhambur bagai semut di bandara dengan laras dan senapan panjang, belum lagi sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel terlihat hampir setiap jarak 100 meter ada tank-tank tentara dan tentara yang siaga. Bagaimana saya berani untuk mengeluarkan kamera, selain bergetar juga karena badan saya hampir membeku kedinginan.

Kami banyak bercerita dengan sopir yang mengantarkan kami menuju hotel, untung saja saya tidak mengeluarkan kamera, ternyata tidak disarankan untuk memotret tentara dan juga wanita Kashmir tanpa seizinnya. Srinagar dihuni hampir 98 % Muslim, mereka mengatakan kalau wanita adalah aurat hingga melarang untuk tourist memotret wanitanya tanpa seizinnya apalagi untuk di share ke media sosial.

P_20150101_002453

Gambar Tank ini satu-satunya yang sempat saya  ambil secara diam-diam dari dalam mobil saat melintas dalam perjalanan ke Jammu.

Selama disana saya tidak mendapati wanita bekerja sebagai frontliner baik itu di restoran, hotel, bank, dan kantor telkom. Bahkan saat saya melewati pasar tradisional, saya tak melihat ada wanita yang berjualan di pasar. Seluruh pelayan hotel, restoran dan pegawai telkom yang saya kunjungi terlihat hanya laki-laki. Begitu juga pedagang di pasar.

Asumsi saya sebelumnya, saya mengira wanita Kashmir dilarang untuk bekerja. Karena mereka menganggap wanita adalah aurat sehingga dilarang untuk bekerja sebagai pelayan dan terkesan disembunyikan. Namun ketika saya menanyakan ini kepada salah satu teman saya yang orang sana, beliau mengatakan wanita bisa bekerja sebagai guru, perawat, dokter, insinyur, pegawai pemerintahan yang bekerja di kantor.

DSC_0119

Perjalanan ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa apa yang kita rasakan saat melihat sesuatu melalui media tidak selamanya akan seperti apa yang kita rasakan saat berada langsung di tempat tersebut. Bisa jadi lebih atau malah kurang. Jika terlihat masyarakat Kashmir keras melalui informasi-informasi yang saya dapatkan, selama berada kurang lebih seminggu disana justru yang saya rasakan bertolak belakang. Mereka sangat ramah, penolong, bersahabat dan begitu welcome.

Suasananya tenang,tidak macet serta udaranya yang sejuk membuat saya merasa nyaman dan ingin berlama-lama berada di tempat itu. Alamnya begitu indah, hingga saya berdecak kagum. Wajar jika ini menjadi wilayah perebutan, karena memang Kashmir sangat kaya.Pemandangan yang bertolak belakang ketika kita berada di India bagian tengah dan selatan. Penduduknya tidak padat dan jauh dari kesan kumuh.

DSC_0117

Harga buah-buahan sangatlah murah. Mulai dari apel,jeruk,anggur,pisang dll. Bayangkan saja ketika berada disana, buah cemilan saya yang kalau di Indonesia adalah pepaya dan pisang disana saya mendapatkan harga anggur baik itu merah, hitam dan hijau sangatlah murah. Harga perkilo untuk buah anggur jika dirupiahkan hanya berkisar 15 – 18 ribu rupiah. Harga coklat dan kacang almond juga murah.

Untuk ole-ole yang menjadi khas Kashmir adalah syal, pashmina dan bahkan selimut serta karpet yang dibuat oleh tangan dengan menggunakan bulu kambing khas sana. Meski kita membeli selimut, syal dan karpet di India bagian selatan mereka pasti dengan bangga mengatakan kalau itu berasal dari Kashmir. Karena memang kualitasnya paling bagus dan cukup hangat.

DSC_0001

DSC_0014

salah satu motif khas Kashmir

Sangat aman untuk tourist berkunjung kesini dan satu lagi jangan khawatir ada scam di sini . Jika kita akan membeli atau bahkan menyewa sesuatu dan mereka telah mematok harga, berarti itu memang sudah harga yang berlaku. Tingkat penipuan sangat minim. Informasi ini saya dapatkan melalui teman saya yang menikah dengan orang India dan telah tinggal selama 10 tahun di New Delhi. Beliau telah berkunjung dua kali ke Kashmir. Namun saya mengatakan ini berdasarkan dengan apa yang saya alami selama disana.

Alhamdulillah masalah keamanan yang menjadi kekhawatiran saya sebelum berangkat kesana, malah masalah alam yang saya alami. Membaca beberapa blog orang-orang yang menuliskan tentang Kashmir, semestinya saat kami tiba itu sudah musim semi, tetapi entah mengapa kami masih mendapati badai salju saat mencoba untuk overland dari Srinagar ke Jammu.

Namun dengan semua itu, saya masih berharap bisa kembali lagi kesana karena pernah berjanji dalam hati, kelak ketika saya menikah maka Kashmir salah satu tempat yang akan menjadi tempat saya untuk berbulan madu (Halaaaaahhh, bangun Ratih, calonnya mana…wkwkwkkw).

Akhir kata, Deep condolences what happened in Kashmir dan saya berharap teman-teman saya dan saudara muslim disana selalu dalam lindungan Allah dan segera memperoleh seperti apa yang menjadi cita-citanya.Aamiin.

P_20160321_103358

Tetap tersenyum meski tidak mandi selama tiga hari, akibat terjebak badai salju dan harus berada di jalan selama tiga hari.

Dipublikasi di Luar Negeri | Meninggalkan komentar

5 Alasan Mengapa Harus ke India

What… ? Ngapain ke India? kenapa harus India yang dipilih?suka yah nonton Bollywood? Cocok gak dengan makanannya yang aroma rempahnya begitu kuat? Katanya India rawan jika perempuan plesiran kesana, kamu berani? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terlontar saat saya mengatakan akan ke India. 

Kan jorok dan kotor serta bukanlah tempat yang pas buat Shopping?” ungkap beberapa teman yang tahu jika saya bakal melenggang ke negara ini. Dengan melempar senyum tipis kujawab “Maklumlah, saya ini cuma petualang dengan dana minim, dan tidak begitu suka shopping” (halaaah alasyaaan, bilang aja belum banyak duit makanya gak suka…heee). 

Di India, orang masih bisa melihat kotoran manusia di pinggir jalan. Tumpukan sampah menyemut, dari kantong pemukiman sampai pantai-pantai terkenal. Kotor adalah pemandangan menyehari dan itu seperti terjadi begitu saja. Menurut CIA World Factbook Tahun 2016,  India berada di urutan kedua jumlah penduduk terpadat di dunia sebanyak 1.266.883.598 jiwa atau sekitar 17,3% dari keseluruhan jumlah penduduk di Dunia ini. Sehingga dalam benak kebanyakan orang, bukanlah destinasi yang menarik untuk dikunjungi. 

Seluruh dunia agaknya sepakat betapa masyarakat India tak peduli kebersihan, bahkan warga India sekali pun. Di website forum Quora, ada pertanyaan singkat, “Why India is very dirty?” Hampir semua yang menjawab adalah netizen India, dan mereka setuju bahwa negaranya kotor. Segelintir warga India yang peduli kebersihan menyesalkan fakta ini. PM India Narendra Modi menanggapi sampah sebagai masalah krusial. India krisis sampah dan menargetkan India bebas sampah pada 2019 dengan mencanangkan program Swachh Bharat (India bersih) sejak 2014. Nah berarti tahun mendatang gak perlu khawatir kan ke India? 

Daripada panjang lebar nda jelas, saya akan langsung menjawab alasan saya memilih untuk berkunjung ke India Maret lalu.

1. Ngapain ke India?

Pastinya bukan karena Shah Rukh Khan atau mencari aktor India lainnya yang terkenal begitu romantis dalam film-film bollywood yang membuat hampir semua wanita terpesona, tetapi saya mencari sosok Shah Jahan yang membuat setiap wanita yang membaca kisah cintanya akan terharu hingga termehek-mehek…uupss kidding. Ngapain ke India? baiklah akan saya jawab jujur kali ini. Karena saya suka budaya, sehingga selalu penasaran ingin melihat langsung budaya dan masyarakat lokal yang berada di tempat itu. saya tidak akan bisa bercerita banyak, jika hanya membacanya melalui buku. 

India salah satu dari peradaban tua di dunia. Ada beberapa peradaban di dunia ini, di antaranya adalah peradaban Asia (India dan Cina), Afrika (Mesir dan Mesopotamia), Eropa (Yunani dan Romawi), dan Amerika (Maya, Inca, dan Aztec). Penemuan kebudayaan di sungai India kuno, berawal pada abad ke-19 (tahun 1870). Munculnya peradaban Harappa lebih awal dibanding kitab Veda. 

Berada di negara ini tidak jauh beda seperti kita melihat film-film kolosal seperti Ramayana, Mahabarata. Kita masih menemukan penduduknya sebagian besar masih menggunakan saree, pakaian khas wanita India dan rangkaian bunga melati yang disemat dirambut mereka dengan assesoris gelang dan kalung menjadi pelengkap style seorang wanita India. Pakaian ini tidak hanya digunakan saat perayaan atau kawinan, tapi hari-hari biasa akan selalu kita dapati dimana-mana. Mana ada sekarang ini yang pakai kebaya di hari-hari biasa kecuali saat menghadiri acara-acara resmi atau pesta perkawinan. 

Karena hal ini sulit kita dapatkan di tempat lain sehingga membuat saya nyaris tersandung berjalan di jalanan bahkan saat berada di ruang tunggu stasiun kereta yang membuat saya nyaris ketinggalan kereta karena begitu asyik mengabadikan moment ini.

Suasana ruang tunggu di Chennai Central

2. Kenapa harus India yang dipilih? 

Katanya belum sah jadi seorang Traveler kalau belum pernah menginjakkan kaki di negeri ini. Selain itu, hampir semua Travel Writer dan Photographer terkenal pernah memilih India dalam kunjungan mereka. 
Kalau saya sendiri, bukannya sok ingin dikatakan traveler yang sah juga bukan seorang Travel Writer terkenal namun jujur mengakui diantara beberapa peradaban di atas yang saya sebutkan, hanya India saat ini yang sesuai isi kantong seorang backpacker seperti saya heeee…. 

Murah, itulah alasan mengapa memilih India sebagai destinasi saya maret lalu. Mengapa saya mengatakan murah karena 1 Rupee itu senilai dengan Rp.200,-  sangat jauh dari Dollar Amerika atau Euro. Bahkan pernah ada selentingan yang mengatakan, biaya hidup di India jauh lebih murah ketimbang biaya hidup di kota-kota besar yang ada di Indonesia. 

Saya membuktikannya, ketika membeli tiket kereta lokal dari Chennai airport menuju Chennai central itu hanya seharga Rs 5 senilai dengan Rp 1000. Nah, mana ada transportasi umum sekarang ini seharga itu. Itu dari segi transportasi, belum lagi makanan. Seporsi nasi Briyani komplit (nasi +ayam+telur+acar+salad bawang) plus chai (teh khas India) dihargai Rs 90 atau senilai Rp 18. 000 dan masih banyak lagi yang tidak saya ceritakan yang bisa membuat kaki gatal untuk segera kesana. 

Nih tiketnya, Rs 10 untuk dua orang. Murahnyooo…

3. Suka yah nonton Bollywood?

Kalau dibilang suka yah tidak selalu, tergantung. Meski Bollywood banyak bercerita tentang love story,  genre biography sering menjadi pilihan saya jika akan menonton film. Karena saya suka baper dan mewek kalau nonton film-film love story, sehingga Bollywood sering masuk dalam list film yang sering saya tonton, tentunya mengisahkan tentang kisah cinta dan wujud cinta dalam keromantisan yang nyata terjadi masa lalu. Salah satu bukti wujud cinta seorang suami kepada istrinya yang lebih dahulu meninggal yakni berdiri sebuah bangunan yang megah dan menjadi Icon negara ini. Yah katanya belum ke India kalau belum berkunjung ke Taj Mahal. 

Mengunjungi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang merupakan Icon dari India adalah hal mengapa saya ingin ke India. Tidak terlepas dari sejarah berdirinya Taj Mahal yang dilatar belakangi tentang wujud cinta Shah Jahan untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal yang sangat dicintainya yang terlebih dahulu meninggal dunia tetapi juga karena menjadi incaran para tourist asing yang datang dari berbagai negara di seluruh Dunia. 

Alasan kedua karena Kashmir berada di bagian utara India. Selesai nonton film Bhajrangi Bhaijaan yang direkomendasikan teman pada september 2015, hasrat untuk mengunjungi India begitu menggebu-gebu (heheee sedikit lebay). Melihat view dalam film ini, yang mengambil syuting di Kashmir. Kashmir merupakan lembah yang berada di wilayah kaki gunung Himalaya yang terkenal dengan keindahan alamnya yang membuat mata selama menonton film ini tak sedetikpun untuk berkedip.Terlebih disini kita bisa menikmati salju abadi, yang katanya menyerupai Swiss. Jika penasaran, segera nonton filmnya (heeee, bukan promosi). 

4. Kuliner India khas dan unik

Kuliner India begitu khas, selain cita rasanya yang kuat juga cara penyajiannya.  Cita rasanya khas karena penggunaan berbagai rempah-rempah khas India dan sayuran yang tumbuh di India, dan beraneka ragam hidangan vegetarian. Masakan India juga mencerminkan keanekaragaman iklim, demografi dan agama. 

Boleh dikata meski memejamkan mata dan hanya mencium aromanya kita sudah bisa mengetahui kalau itu masakan India. Entah mengapa aromanya begitu kuat di penciumanku. Restaurant masakan India juga ada di kota tempat tinggal saya, dan merupakan salah satu resto favorit saya ketika nongkrong bersama teman saat menghindari makanan berat. Katanya mencicipi makanan langsung dari kota asalnya pasti lebih nikmat dan berkesan. Betul sekali pendapat ini, ternyata sangat berbeda sekali yang pernah saya rasa sebelumnya dengan yang saya rasakan saat berada di negeri ini, kuahnya begitu kental dan sedikit hambar. Belakangan saya juga mengetahui kalau makanan india itu kaya rempah yang menyehatkan. Nah daripada penasaran dan bertanya-tanya, saya akhirnya memutuskan untuk merasakan langsung masakan India di negara asalnya. 

5. Katanya India rawan jika perempuan plesiran kesana, kamu berani?

Nah bagian ini yang paling membuat saya dag dig dug, bingung mau jawab apa. Mau jawab berani, takutnya takabbur. Mau tetap dengan kekhawatiran apalagi banyaknya media yang menayangkan berita pemerkosaan, berarti saya tidak melangkah-melangkah. Yah sudahlah, saya jawab saja. Bismillah, In shaa Allah akan baik-baik saja. So, packing your bag Ratih and go (dalam hati saya berkata kala itu). itulah yang saya lakukan sebelumnya dan alhamdulillah keputusan saya tidak salah, karena akhirnya tiba kembali ke tanah air dengan selamat. 

Sedikit bercerita tentang pengalaman travelmate saya, seorang gadis cantik yg masih tergolong muda diantara kami karena masih koas. Melihat reaksinya saat meet up di Kuala Lumpur, tak sedikitpun dari raut wajahnya menampakkan kekhawatiran akan melakukan solo traveling dari Kolkata hingga Kashmir. Dia yang akan terbang duluan ke India dan masuk lewat Kolkata, karena kami membeli tiket beda-beda sehingga hanya janjian ketemu di Kashmir. Dia bercerita perjalanannya seorang diri hingga ke Jammu yang tak sedikitpun ada hal-hal yang buruk, bahkan saya kaget ketika dia menghubungi saya. Dan ternyata dia tak pernah membeli sim card selama di India, dia sering ditolong orang lokal untuk berbagi wifi. 

Saya juga selama di India menggunakan transportasi lokal dan tentunya berbaur dengan masyarakat lokal, tetapi alhamdulillah kami banyak dibantu mereka selama perjalanan. Mulai dari memberikan bekalnya saat dikereta, membantu menawarkan bajai dengan bahasa lokal, ada juga keluarga yang terus membuntuti kami, karena merasa aneh dibuntuti terus akhirnya saya menghampiri bapak dan bertanya, jawabannya membuat saya dan Ayie saling bertatapan. Dia mengatakan “Sorrymy Family wanna take a picture together” ternyata bukan kami saja yang tertarik dengan mereka. Mungkin kami juga unik dimata mereka, apalagi teman saya menggunakan saree dengan model kerudung yang berbeda. Akhirnya kami bagai selebrity berjalan anggun menuju mereka yang telah menunggu dari jarak 20 meter dan berfoto bersama fans kami (heeeeee, mulai pede). 

Keluarga ini katanya ngefans dengan kami berdua,hingga bapak ini mengukuti kami terus sejak masuk ke Taj Mahal,

Belakangan saya diberitahu oleh teman, pemetaan wilayah yang aman untuk dikunjungi oleh wanita. Hanya Delhi yang berwarna merah, untung saya di Delhi hanya numpang lewat saja.heee

Well, begitulah cerita saya dibalik kunjungan ke India. Jika ada yang punya pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan yang saya alami, packing your backpack and go…. Biar membuktikannya sendiri :):)

Dipublikasi di Luar Negeri | Tag | 6 Komentar

Melihat kehidupan suku Sasak di dusun Ende                         

Gerbang masuk menuju dusun Ende

Berbicara tentang Lombok tidak sah rasanya jika tidak mengunjungi desa wisata yang berada tidak jauh dari Bandara International Lombok di Lombok Tengah. 

Desa Sade yang paling banyak diketahui sebagai desa wisata untuk melihat kehidupan langsung masyarakat Sasak. Namun karena kami anti mainstream, kami mengunjungi dusun Ende yg lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Sade dan tidak begitu turistik serta masih alami karena hanya dihuni sedikit KK dibandingkan Sade. 

Suku Sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam.

Kata Sasak berasal dari kata sak sak, artinya satu satu. Orang Sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah Sèsèk. Kata sèsèk berasal dari kata sesak,sesek atau saksak. Sèsèk dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu(sak sak).

Menurut Abang guide yang mengantarkan kami berkeliling dan saya lupa namanya, Dusun Ende hanya di huni 24 KK yg mana setiap KK pada umumnya berjumlah 4 – 5 org.

Rumah Sasak terdapat dua ruangan, bagian dalam digunakan utk tempat tidur perempuan dan merangkap dapur sedangkan bagian luar untuk laki-laki.

Selain rumah huni ada juga Balai Tani (rmh utk petani),Balai Bunter,Lumbung padi yg unik krn khas model sasak, betuga’ (tempat peristrahatan jika plg dari sawah), balai jajar (Balai Pertemuan) jika ingin membahas masalah-masalah.

          “Lumbung Padi khas Sasak”

Keunikan rumah sasak, lantai dan dindingnya diolesi kotoran hewan (sapi) setiap 2 minggu sekali. Dan ternyata tdk bau pemirsa, setelah saya menempelkan hidung di dinding. 

Keunikan lainnya untuk menikahi gadis Sasak sebelum ia di lamar,  ia harus diculik terlebih dahulu. Saya dan Lastri saling berpandangan mendengar penjelasan ini (Culik adek dong Bang Hee). 

Jika ingin membeli ole-ole tersedia souvenir hasil kerajinan masyarakat setempat dan juga kain hasil tenunan perempuan sasak.  Utk msk tdk ada patokan harga, dibayar sesuai keikhlasan hati. 

Sebaiknya pakai guide yg ada karena mereka tidak paham bahasa Indonesia. 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , | 6 Komentar

Keliling Lombok 4 hari 3 Malam

Siang itu seluruh umat muslim sibuk bersilaturahim bersama sanak saudara karena merayakan hari raya Idul Fitri, tetapi kami berdua malah bertolak meninggalkan kota Makassar. Tanggal 28 july 2014 pukul 15.05 WITA dengan pesawat Garuda tujuan UPG-LOP (Ujung Pandang – Lombok Airport Praya) saya berdua Lastri(Travelmate) malah memulai trip kami dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau Nusa Tenggara Barat.

DSC_0001

 

Lombok menjadi destinasi yang begitu saya impikan, karena jujur saja banyak mendengar cerita tentang indahnya pantai-pantai di tempat ini. Sebelum berada di Lombok, destinasi favorit yang ramai diperbincangkan orang-orang yah Gili Trawangan, Senggigi, Rinjani yang masuk dalam daftar gunung tertinggi ketiga di Indonesia serta rumah adat suku sasak yang unik itu. Tetapi ternyata setibanya di sana, kami malah di tertawakan oleh anak Lombok Backpacker. Mereka mengatakan waduh Cuma empat hari di Lombok? Itu tidak cukup, bahkan masih banyak tempat yang indah-indah selain dari yang kami sebutkan di atas.

Sore pukul 16.20 WITA kami tiba di Bandara Internasional Lombok di Praya, waktu terbang sekitar 1 jam lebih 15 menit. Bandara ini terletak di Lombok Tengah. Jarak dari bandara menuju ibu kota provinsi adalah 36 km, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 50 – 60 menit. Setibanya di Bandara kami berfoto di depan sejenak, kemudian keluar untuk menunggu Damri yang akan mengantarkan kami menuju kota Mataram.

Praya

Yeaayyyyyy, Welcome to Bandara Internasional Lombok (LOP)

Untuk mengunjungi Lombok ada beberapa beberapa alternatif rute yang bisa dilewati. Bisa melalui jalur udara, laut dan darat. Sengaja kami menggunakan jalur udara dengan penerbangan langsung Makassar-Lombok karena ingin menghemat waktu agar sepulangnya dari Lombok kami bisa mencoba meninggalkan Lombok melalui jalur laut.

Perjalanan untuk Jalur Udara bisa langsung dari kota anda menuju Bandara Internasional Lombok, jika tersedia rute direct atau bisa transit terlebih dahulu melalui bandara Ngurah Rai di Denpasar kemudian lanjut Bandara Internasional Lombok (LOP).

Perjalanan melalui Jalur laut biasanya menggunakan kapal laut yang umumnya disiapkan oleh PT.PELNI karena ada dua pelabuhan yang merupakan gerbang masuk ke Lombok yakni pelabuhan lembar yang berada di Lombok Barat dan Labuhan yang berada di Lombok Timur. Namun Jika berada di pulau terdekat seperti Bali dan Sumbawa bisa ditempuh dengan menggunakan Ferry atau kapal cepat (speed boat) yang akan selalu tersedia tiap jam.

Untuk yang berada di sekitar Jawa, Jakarta juga bisa menempuh dengan jalur darat. Seperti halnya rute yang kami gunakan saat meninggalkan Lombok menuju Banyuwangi. Melalui pelabuhan Lembar nyebrang dan masuk ke pelabuhan Padang Bay (Bali) kemudian menuju kota Denpasar dengan menggunakan angkot hingga terminal Ubung kemudian di terminal Ubung kita bisa menyewa bus langsung Banyuwangi atau bisa juga menggunakan angkutan umum dari terminal Ubung menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang ke pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Nah, dari kota Banyuwangi nanti jika hendak menuju Jakarta ataupun wilayah lainnya di kota Jawa bisa naik kereta ataupun bus yang akan mengantarkan anda ke kota tujuan.

fery.jpg

Suasana di Kapal Ferry dari pelabuhan Lembar menuju pelabuhan Padang Bay

Waduh saking panjang lebarnya bercerita tentang rute untuk masuk ke Lombok, saya lupa cerita saya terputus di atas. Baiklah, mari kita lanjut bercerita. Sore itu dengan menngunakan bus DAMRI dari Bandara kami menuju kota Mataram dengan rute Bandara- Terminal Mandalika yang ditempuh selama 1 jam dengan tarif Rp.25.000,-.

Jika anda memilih untuk langsung ke Senggigi juga terdapat rute Bandara-Senggigi dengan tarif Rp.35.000 dengan waktu tempuh 1,5 jam. DAMRI ini beroperasi mulai pukul 04.00 WITA hingga 20.00 WITA. Selain bus DAMRI di Bandara juga tersedia Taksi jika anda ingin mencari alternatif lain atau jika ketibaan anda di luar jam operasional bus DAMRI.

Belum cocok juga dengan Taksi atau Damri, masih ada pilihan kendaraan Travel yang dapat dipesan atau dibooking terlebih dahulu sebelum kedatangan di Lombok. Tapi yang satu ini sepertinya lebih cocok jika berlibur berkelompok atau membawa banyak barang karena bisa ada partner sharing cost.

Masih belum ada yang cocok juga? Baiklah, kita masih memiliki opsi angkot (orang di sini nyebutnya Keri (dari Carry)). Tapi, Keri tidak ada di dalam area Bandara. Anda harus mau jalan kaki ke luar area Bandara kurang lebih 500 meter. Keluarlah ke bypass bandara, dan tunggu Keri lewat di situ. Keri yang lewat depan Bandara Lombok adalah Keri rute Sengkol – Praya, sehingga kalau Anda ingin ke Praya atau ke Sengkol cocok menggunakan transportasi ini. Kekurangan dari Keri ini adalah jarang yang beroperasi sampai malam, paling aman ada sampai jam 5 sore. Tapi kelebihannya tentu saja di ongkos.

Bandara

Jalanan dari Bandara menuju kota Mataram

DSC_0416

Hamparan sawah yang memanjakan mata dalam perjalanan dari Bandara menuju kota Mataram

Setibanya kami di terminal Mandalika pukul 18.30 WITA kami kesulitan untuk menemukan ojek yang akan mengantarkan kami menuju rumah singgah Lombok Backpacker di jln. Bangil V, maklum hari itu masih suasana lebaran dan kemungkinan tukang ojeknya juga masih libur. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari taksi.

Sekitar setengah jam menunggu, barulah kami menemukan taksi yang akan mengantarkan kami ke tempat untuk menginap selama berada di Lombok. Rumah singgah Lombok Backpacker diperuntukkan bagi pelancong yang akan berkunjung ke Lombok, baik itu yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Maklumlah prinsip backpacker kalau ada yang murah kenapa harus mahal, dan kalau ada gratisan kenapa harus membayar. Tapi bukan itu tujuan utama kami, memilih menginap di rumah singgah untuk berbaur dengan masyarakat lokal agar memperoleh informasi langsung dari teman-teman mengenai spot yang akan kami tuju begitupula tentang budaya dan kuliner yang khas di kota ini. Dan tentunya akan berbagi pengalaman sesama traveller dari berbagai daerah yang mengunjungi rumah singgah tersebut.

Setibanya kami di Rumah Singgah, kami tak menemukan mamak dan bapak pemilik rumah tersebut. Beliau masih berada di rumah puterinya yang juga tinggal di kota Mataram namun di alamat berbeda. Anak-anak Lombok Backpackerpun tak ada yang berada di rumah itu, saya hanya menemukan dua perempuan dari Jakarta yang baru saja tiba dari Gili yang juga telah menginap di rumah itu dan dua perempuan turis asing yang tidak sempat saya tanyakan asalnya.

Oh ya, rumah singgah ini tak pernah dikunci, jadi meskipun tuan rumah tak berada di tempat kita bisa saja datang kapan saja asalkan telah menyampaikan dan dikonfirmasi dari pihak rumah singgah. Tak berapa lama kami menaruh tas di kamar, kemudian datanglah mas Tendou salah satu anak Lombok Backpacker karena telah disampaikan oleh admin Mas Duta untuk menyambut kami (Caileee, serasa orang penting). Maklum kami hanya mengontak mas Duta saat kami tiba di Bandara, dan beliau pulalah yang memberikan kami informasi angkutan yang harus kami tumpangi untuk menuju ke rumah singgah. Beliau masih mudik, jadi tidak sempat menemui kami.

Tendou

Ini mas Tendou sibuk menjelaskan spot-spot wisata di Lombok melalui peta yang tertempel di dinding tembok rumah singgah

rame

Suasa kekeluargaan bersama penghuni Rumah Singgah. Dari Kanan akan saya perkenalkan : Mba lupa namanya (Anak bungsunya Mamak), Lastri (Travelmate saya), Mamak (Pemilik rumah singgah), Saya sendiri, Mas Micko Kuncoro (Anak lelakinya mamak), Shine lee (Traveller dari China)

Sekarang saatnya saya akan bercerita spot apa saja yang saya kunjungi di Lombok selama 4 hari 3 Malam mulai dari Lombok tengah, Lombok Barat, Lombok Timur. Yuk intip petualangan dua gadis mengitari Lombok dengan menggunakan sepeda motor pinjaman teman di cerita selanjutnya (Part 2).

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Lombok Part 1 | 2 Komentar

Aku dan Mbo’e

Perjalananku diawal tahun 2013 lalu menuju kota Semarang dari kota Yogyakarta begitu membekas dalam ingatan. Bagaimana tidak, perjalanan singkat namun mampu mengubah sudut pendangku terhadap laki-laki. Boleh dikata karena perjalanan ini, kriteria calon suami idamanku tercetus.heeeee sedikit lebay….

Perjalanan ini  saya rencanakan dengan  Ime (sahabat saya)beserta anak dan ibunya, rute yang akan kami tempuh yakni  Makassar – Jakarta – Bandung – Bogor – Jakarta – Yogyakarta – Solo – Semarang – Yogya – Makassar selama 14 hari.

Pagi itu meski sedikit ragu, kubulatkan tekad untuk tetap melanjutkan perjalanan seorang diri. Malam sebelum keberangkatan Ime mengatakan  “ Sepertinya nda bisaka besok lanjut ke Semarang, agak demam anakku. Mungkin capek sekali mi, saya tunggu miq saja disini” ( Sepertinya saya tidak lanjut ke Semarang esok hari karena anakku agak demam. Mungkin karena kelelahan, saya menunggu di sini saja).

Setelah berbincang  malam itu bersama Ime, kurebahkan tubuhku ke sudut tempat tidur dan berbaring menghadap tembok kamar dimana tergantung sebuah hiasan dinding bergambar Candi Prambanan. Resah, ragu, was-was, sedikit gugup karena belum pernah melakukan perjalanan luar kota seorang diri apalagi tempat ini belum pernah aku kunjungi. Kutarik nafas dalam-dalam, kubuka kembali  sms ajakan tetangga yang berharap menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Kupejamkan mata untuk melawan batin yang lagi berperang, kuucapkan Bismillah sambil bergumam dalam hati “Semarang, tunggu aku”.

Selesai sholat subuh, aku mulai menyiapkan apa-apa saja yang akan kubawa untuk berada di Semarang selama dua hari satu malam. Tepat pukul 07.00 WIB selesai sarapan aku bergegas berpamitan pada Ime dan tak lupa menanyakan pada ibu pemilik hostel kode nomor Trans Yogya menuju terminal Jombor tempat mengambil bus menuju kota Semarang.

Melangkah meninggalkan hostel menuju halte MT. Haryono I yang hanya berjarak 100 meter dari hostel tempat kami menginap. Menunggu bus kode 3A sesuai petunjuk ibu tadi, dan nanti akan turun  di halte Malioboro untuk berganti bus dengan kode 2B menuju terminal Jombor.

Setibanya di terrminal Jombor, kulirik jam pada telepon genggamku menunjukkan pukul 07.50 WIB. Celingak celinguk di terminal mencari bus menuju Semarang. Beberapa meter tempatku berdiri nampak seorang kenek teriak-teriak nama kota-kota yang akan dilalui oleh bus tersebut, namun saat ia menyebutkan Semarang aku segera bergegas menuju bus tersebut.

“Mas, ini ke Semarang yah???kataku, “iya, semarangnya dimana mba??tersentak dengan pertanyaan kenek,sedikit bingung dan lupa alamat yang diberikan oleh tetanggaku. Kurogoh telepon genggam dalam tas salempang kecilku membuka kembali pesan inbox, mencari alamat tempat kost yang diberikan. Sepertinya tempat kostnya berada disekitar UNDIP, setelah kubaca segera kujawab pertanyaan kenek tadi  “Tembalang mas”, kataku.

Ayo mba, naik..naik bus sudah mau berangkat”, katanya.  Secepat kilat kuayunkan langkah menaiki bus yang terlihat seperti bus tua, namun masih layak pakai. Bus ini adalah bus ekonomi dan non AC. Aku naik dari pintu tengah bus, kulihat kursi kosong pas dihadapan pintu. Setiap baris tempat duduk terdapat dua kursi, kutaruh tas ransel didepan kursi lalu aku duduk.

Ada seorang wanita tua yang duduk disampingku, pandangannya ke arah jendela kaca bus. Sejak saya naik ke bus hingga duduk disebelahnya, sedikitpun dia tidak menoleh. Dalam hati aku mencoba menerka, barangkali  nenek tua ini tengah asyik memandangi lalu lalang orang di luar sana, atau sedang menunggu dan janjian dengan seseorang?entahlah, tapi kenapa juga saya sibuk dengan tingkah laku nenek ini, toh sama sekali apa yang dilakukannya tidak menganggu kenyamanan saya.

Segera kukeluarkan headset dari tas selempangku, mari dengar musik saja Ratih daripada sibuk menerka-nerka tentang nenek tua itu. Jangan sampai malah nanti larinya ke pikiran negatif. Jarak tempuh Yogyakarta ke Semarang sekitar 124 Km dan akan melewati Mungkid, Magelang, Ambarawa,Bergas  hingga tiba di kota Semarang. Kata tetanggaku, lama perjalanan sekitar 3 jam kalau tidak macet. Wah, berarti masih bisa tidur sambil dengar musik yah pemirsa…heee…

Tiba-tiba tersentak saat kenek berdiri tepat dihadapanku, segera kukecilkan volume musik. Karcisnya mba” katanya sambil menyodorkan potongan karcis dihadapanku. segera kurogoh dompet dalam tas salempang yang berada di pangkuanku. Kukeluarkan lembaran seratus ribu rupiah, kemudian kenek bus pun menoleh kearah wanita tua dengan rambut ikal dengan dipenuhi uban yang hanya diikat karet gelang yang masih menatap ke arah jendela kaca bus. “Karcise mbo’e” katanya. Seperti itu yang terdengar olehku, mohon maaf jika tidak sesuai soalnya saya bukan orang Jawa.hee…

Tak sedikitpun nenek tua itu berbalik, tak jua menyahut. Hingga kulihat kenek bus itu melongo, dan malah berbalik arah menatapku. Sepertinya si kenek mengira kalau ibu tua itu adalah ibu saya, ataukah nenek saya atau saya mengenalnya. Kujawab dengan pelan “iya mas saya berdua” akhirnya kenek tersebut berlalu ke belakang bus mencari kembalian karena tak punya uang kecil.

Tak kusangka baru saja kenek berlalu, tiba-tiba nenek tua yang membuat saya penasaran sejak berada di bus ini akhirnya menoleh. Kemudian beliau menyodorkan lembaran uang seratus ribu rupiah kepadaku. Akupun berbalik sambil berkata “Sudah ko’nek ga papa” tetapi dia tetap bersikeras menyodorkan uangnya. “Terima kasih nduk, ambil aja” dengan suara yang begitu lemah. Kujawab, “aku nda ada kembalian nek, ga papa nek”.  “Terima kasih nduk” kata nenek tua itu. Tak lama kemudian kenek datang membawa kembalian uang saya.

Nenek tua itu memasukkan kembali lembaran seratus ribu tersebut ke dalam dompet kecilnya.  Matanya terlihat sembab seperti habis menangis, dari raut wajahnya terlihat dia begitu kelelahan. Di tangannya sedang memegang handuk kecil, yang sesekali diusapkan ke hidungnya yang nampak kemerahan. Benar dugaan saya, nenek tua ini habis menangis.

Kucoba menerka, mungkin saat tadi kenek meminta uang karcis beliau bukannya tidak mendengar namun menghapus air matanya dulu. Hmmm, saya terlihat seperti telepati yang mengerti makna diamnya nenek ini. Tiba-tiba saya seperti hanyut dalam keadaan nenek tua ini, hingga saya tidak berani memulai percakapan atau sekedar bertanya tujuannya kemana.

“Mbo’e lagi sedih nduk” katanya dengan terbata-bata memulai percakapan denganku. Ekspresi wajahnya menampakkan kalau ia sedang terluka. Karena itu lidahku kaku, tak mampu balik bertanya apa yang membuatnya bersedih. Tiba-tiba air matanya mengucur deras, hingga ia tak kuasa melanjutkan perkataannya. Sambil terisak menghapus air matanya dengan handuk kecil ditangannya, ia mencoba melanjutkan kata-katanya.” Mbo kabur dari rumah anak mbo pagi tadi”. Saya tetap diam seribu bahasa, sambil mengelus-elus bahu nenek tua itu dan berkata “Sabar mbo”.

Setelah menghapus air matanya ia melanjutkan perkataannya “Kemarin sore mbo tiba dari kampung ke Yogya, kebetulan bawa batik pekalongan buat dititip dijualan anaknya tetangga di Bringharjo” kali ini nenek berbicara dengan sedikit tenang dan jelas.

“Setelah dari Bringharjo, mbo mampir di rumah anak lelaki mbo di sosrowijayan. Mbo kangen ama anak dan cucu. Tiba dirumah, anaknya mbo belum balik dari kerja. Mbo main-main ama cucu, tapi mantu mbo ga menegur sama sekali. Dianya diam-diam aja ke mbo, mbo pikir lagi capek ngurus anaknya. Ya sudah mbo maklum dan diam juga”.

“Tetapi yang buat mbo teriris, malam harinya. Saat di kamar pengen tidur, mbo mendengar mantu dan anak mbo kelahi. Mbo mendengar mantu mbo bilang, ngapain itu ibu kamu datang disaat kita lagi banyak pengeluaran” tangisnya meledak mengakhiri ucapannya. Mbo’ rindu ama anak dan cucu, mbo ga datang untuk minta-minta” sambil menutupi wajahnya dengan handuk kecil di tangan. Kali ini saya yang mulai menangis, air mataku jatuh tak tertahan membasahi tas salempang di pangkuanku.

Beberapa saat si mbo menangis, dan menutupi wajahnya dengan handuk kecil yang selalu dipegangnya. Aku sendiri menghapus air mata dengan tanganku, menatap nenek tua yang duduk disebelahku. Sepertinya nenek tua ini terluka teramat dalam, hingga tangisannya terdengar begitu pilu. Kukeluarkan air mineral botol yang kubawa dan berkata kepada si mbo “ Mbo, minum dulu”.

Dibukanya perlahan wajahnya,  dan berkata “Terima kasih nduk, mbo ga haus”. Setelah itu ia melanjutkan perkataannya “Mbo hanya punya dua anak, yang laki-laki ini yang paling tua. Yang satunya anak mbo perempuan, ikut lakinya ke Cirebon”.

Mbo tinggal di Lebo sendiri, tapi mbo jualan. Jadi untuk makan sehari-hari mbo masih punya, nda mungkin memberatkan anak-anak. Mbo kalau dikasih duit sama anak mbo, yah mbo terima. Tapi mbo sama sekali ga pernah minta-minta duit ama anak, karena mbo tahu mereka juga punya anak yang akan dibiayai sekolah”.

Perbincanganpun berhenti, ketika bus tiba-tiba berhenti di terminal Magelang. Ada penumpang yang turun dan ada juga yang naik. Akupun turun dari bus menuju toilet, setelah itu singgah di warung untuk membeli cemilan. Saat kenek mulai teriak bergegas saya menuju bus, dan duduk kembali di sebelah nenek tua yang sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduknya.

“Nek, mari dimakan”. Kosodori kantung plastik yang berisi roti dan aneka cemilan yang kubeli di warung tadi, tapi dengan suara pelan ditolaknya “Terima kasih nduk, mbo masih kenyang” katanya. “Oh saya taruh sini yah nek, nanti kalau lapar di makan aja”. Dia pun hanya membalasnya dengan anggukan. Kemudian nenek tua itu kembali ke posisi awal, menatap keluar ke jendela bus.

Tiba-tiba rasa laparku pun hilang, pikiranku menerawang jauh ke kisah pilu nenek tua ini. Sebagai seorang wanita yang berharap kelak akan mempunyai suami dan anak, tentu aku tidak ingin mendapat perlakuan yang sama dari istri anak lelaki jika Allah memberiku rezeki anak laki-laki. Pernah mendengar kata orang  kalau punya anak laki-laki katanya bukan lagi anak kita jika ia telah menikah, tapi sudah menjadi anak orang.

Jauh di lubuk hatiku bertanya, apakah kisah nenek tua ini adalah salah satu dari bukti kata-kata orang?. Astagfirullah, dalam hal ini saya tidak sedang menghakimi perbuatan menantu dalam cerita nenek tua ini, tetapi cerita nenek tua ini adalah pengalaman berharga dalam hidup saya. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan nenek tua ini sehingga saya mengambil banyak pelajaran hidup dan hikmah dari kisah ini.

Sebagai seorang wanita, setelah menikah seolah-olah kita ingin agar suami kita perhatian dan kasih sayangnya tercurah sepenuhnya hanya kepada kita dan anak-anak. Tidak menginginkan sedikitpun ada ruang yang tersisa untuk dia berbagi perhatian dan kasih sayang kepada orang lain. Kita ingin menguasai perhatian, waktu dan hatinya. Dan selalu merasa cemburu jika ia berbagi perhatian itu, meskipun itu hanya kepada ibu kandungnya sendiri.

Kita lupa akan sosok wanita sebelumnya yang berjasa mengantarkannya  menjadi sosok yang sekarang ini. Kita lupa sebelum bersamanya, ia telah berpuluh tahun bersama seorang wanita yang dengan sabar merawatnya sejak ia tidak bisa apa-apa hingga menjadi seperti sekarang ini. Tanpa kita sadari bahwa diri kita belum tentu mampu melakukan pengorbanan sebesar itu, hanya karena ikatan pernikahan hingga kita merasa bahwa dia sepenuhnya milik kita.

Tak kuasa kubendung air mataku hingga akhirnya tumpah juga. Tiba-tiba teringat dengan Almarhumah ibu. Beliau pernah berkata kepadaku, “Nak, jika wanita kelak sudah menikah maka orang tuanya itu adalah suaminya. Dia wajib mendahulukan suaminya ketimbang orang tuanya lagi. Berbeda dengan Laki-laki ketika ia telah menikah maka orang tuanya tetaplah orang tuanya bukan istrinya. Jadi sepatutnya ia masih harus berbakti kepada orang tuanya. Jangan pernah cemburu jika ia memperhatikan orang tuanya, karena itu masih menjadi kewajibannya. Jangan memberikan posisi yang sulit untuk memberinya pilihan antara dirimu dengan orang tuanya, karena disitu tidak ada pilihan. Dia punya punya tanggungjawab kepadamu, dan juga kedua orangtuanya. Justru istri yang baik adalah mengingatkan suaminya ketika ia lupa atau sibuk dan tidak berkabar ke orangtuanya, dukung ia berbakti kepada orangtuanya agar pahalanya juga mengalir padamu”.

Kutarik nafas dalam-dalam, dalam hati aku berkata semoga saya akan selalu ingat akan kata-kata mu Ibu. Semoga kelak jika Allah memberiku suami, aku selalu ingat bahwa ada wanita lain yang juga menanti pelukan hangat dari suamiku. Ada wanita lain yang juga butuh perhatian dan kasih sayang dari suamiku, ada wanita lain yang ingin berbagi canda tawa dengan suamiku. Dan wanita itu akan berharap untuk selalu dirindukan dan diharapkan kedatangannya. Semoga ego ku sebagai wanita mampu terkalahkan oleh niat untuk menemani suamiku berbakti kepada orang tuanya.

Mulai hari ini tercetuslah satu kriteria calon suamiku. Mungkin saya akan menilainya bukan lagi dia yang setiap hari berkabar dan mengatakan sayang padaku (hahayyyyy), tapi mengamati bagaimana ia memperlakukan ibunya. Bukan juga dia yang selalu mengikuti semua keinginanku, tetapi ia yang dengan lembut meluruskanku jika apa yang kuminta adalah hal-hal yang akan menjerumuskannya dalam dosa. Karena jika ia menyayangiku, maka wujud sayangnya bukanlah memberikan semua yang kuinginkan, tetapi membawaku bersama dalam kebaikan. Amin ya Allah.

Dalam lamunan tentang kisah nenek tua dan bagaimana kriteria tentang laki-laki idamanku, hingga membawaku terlelap dalam tidur. Sayup-sayup kudengar suara riuh, aku tersentak bangun. Kutanyakan pada kenek “Mas ini dimana?? “Ini terminal di Semarang katanya”. “Mas aku turun di Tembalang, masih jauh yah??” tiba-tiba dia kaget, “wah lupa aku mba, Tembalang dah lewat”. Waduhhh saya sedikit panik. “Mba bisa turun sini, keluar terminal di sudut ada angkot menuju kampus UNDIP. Mba bisa nanya sama sopirnya” ohh gitu ya Mas, makasih”.

Kulirik nenek tua disampingku, terlihat dia menaruh handuk kecil yang ada di tangannya ke dalam tas. “Nenek turun sini yah?” kataku. “Iyya nduk, mbo turun sini masih harus lanjut naik bus lagi yang kearah Pekalongan” katanya. Sambil berdiri dan saya pun ikut berdiri untuk turun beriringan. Setelah itu dia menodorkan kedua tangannya menyalamiku, dan aku sedikit menundukkan kepala kearah kedua tangannya.” Mari yah nduk, mbo duluan”. “Iya nek” kataku. Kamipun berjalan ke arah yang berlawanan.

Dipublikasi di Semarang | 4 Komentar

Mengejar “Blue Fire” di Kawah Ijen

idjen 7

Kawah Ijen

Blue Fire, alasan mengapa kami memilih Kawah Ijen sebagai destinasi selanjutnya setelah mengunjungi Lombok dan Bali. Meski tahu medannya agak sedikit sulit, tapi karena kami boleh dikata wanderer women. so, lets go…Akhirnya kamipun memutuskan untuk menyeberang melalui pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang.

Kawah Ijen ini terletak diperbatasan antara Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi Jawa Timur. Ada 2 Rute untuk sampai ke tempat ini yakni dari arah utara melewati Situbondo – Sempol (Bondowoso) – paltuding dan dari arah selatan yakni Banyuwangi – Licin – Paltuding. Kami menempuh jalur dari selatan dimana Paltuding merupakan gerbang pos untuk melakukan trekking ke Gunung Ijen.

Spot ini masuk dalam list saya ketika berbincang-bincang dengan “Hanna Gullabo” teman dari Ukraina berkunjung ke Makassar bercerita betapa indahnya menyaksikan api biru dalam gelapnya malam dengan hawa dingin menyelimuti tubuh. Katanya Blue Fire hanya ada 2 di Dunia yakni Iceland di Bagian Eropa dan Kawah Ijen di Banyuwangi Jawa Timur.

Siang itu saat meninggalkan Kuta menuju terminal Ubung banyak deramah yang terjadi, diawali deg-degan menunggu angkot yang tak kunjung tiba hingga macetnya selama perjalanan akibat arus balik. Waktu tempuh yang seharusnya hanya berkisar 4 jam untuk sampai di pelabuhan Gilimanuk molor hingga kurang lebih 7 jam. Mataku tak terpejam dari balik jendela bus, memandang panjangnya antrian kendaran dijalanan yang tak berujung sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam. Hatiku resah jika harus tiba di pelabuhan Ketapang tengah malam dan tidak cukup waktu untuk tiba ditujuan utama kami.

Pukul 21.05 WIB akhirnya tiba di pelabuhan Ketapang, kami telah dijemput teman yang kebetulan orang sana dan berbaik hati untuk mengantar keliling-keliling selama di Banyuwangi. Dari Pelabuhan kami menuju alun-alun kota Banyuwangi untuk makan malam dan mencoba makanan khas kota ini yakni Rujak Sayur. Selesai mengisi perut kemudian berpose sebentar di jalanan dekat alun-alun lalu melanjutkan perjalanan langsung ke Licin untuk mencari penginapan, namun sayang saat itu semesta tak mendukung. Dalam perjalanan menuju Licin tiba-tiba hujan deras, yang mengharuskan kami untuk singgah berteduh karena kedua teman yang menjemput dengan dua sepeda motornya tak membawa jas hujan. Hujan semakin deras memaksa kami untuk terus berteduh hingga tak terasa kami telah berteduh hingga 2 jam lamanya.

Malam semakin larut hanya kami berempat yang terlihat berteduh di emperan sebuah toko. Hanya beberapa kendaraan yang bisa dihitung jari melintas melewati jalan ini. Kota Banyuwangi terlihat sepi malam itu, kulirik jam tangan yang melingkar dipergelangan Lastri ternyata waktu sudah menunjukkan kurang 10 menit pukul 24.00 WIB. Kutarik nafas dalam-dalam dengan perasan campur aduk antara lelah, dingin dan keinginan melihat Blue Fire, dalam hati bergumam sepertinya nasib tidak akan membawa kami untuk melihat Blue Fire malam ini.

Menurut informasi untuk menyaksikan munculnya Blue Fire, sebaiknya melakukan trekking dari pos Paltuding naik ke Puncak gunung Ijen yang berjarak 3 km dengan medan yang mendaki, ditempuh dengan waktu 3-4 jam . Karena Blue Fire hanya akan keluar mulai pukul 01.00 – 03.00 WIB, sehingga selambat-lambatnya pukul 22.00 WIB sudah berada digerbang pendakian untuk trekking menuju puncak.

Setelah berdiskusi bersama “Lastri” travelmate saya, akhirnya kami memutuskan untuk tidak memaksakan kesana malam itu dan mencari penginapan disekitar kota Banyuwangi saja. Namun tetap akan berkunjung kesana setelah sholat subuh, dan mengejar Sunrise yang konon katanya merupakan Sunrise pertama yang ada di pulau Jawa. Dari kota Banyuwangi menuju licin itu akan ditempuh dengan jarak 15 Km dan dari Licin menuju Paltuding itu akan ditempuh 18 Km dengan jalan yang mendaki dan berkelok-kelok serta sedikit rusak.

Namun sangat disayangkan sekali, Blue Fire tak dapat begitupula Sunrise, kami tiba di pos Paltuding pukul 06.10 WIB setelah meninggalkan kota Banyuwangi pukul 04.35 WIB selepas sholat subuh. Namun kami tetap kesana karena penasaran dengan Kawah yang terbesar di Dunia yang derajat keasaman 0,8 hingga 0.

idjen 8

Jangan berlama-lama asapnya beracun

idjen 5Sempat shock begitu lepas dari pos Paltuding langsung dihantam dengan pendakian sepanjang 1,5 Km sementara tanpa pemanasan sama sekali, meski ngos-ngosan tapi tetap semangat kala berpapasan dengan orang-orang yang hendak turun setelah berada dipuncak malam hari dan menyaksikan Blue Fire atau sesama pengunjung yang baru juga akan menuju ke puncak ” Hayyooo mba,,,semangat, bentar lagi nyampe jangan sampe kesiangan lohh” padahal sebenarnya masih jauh. Ohh iyya saya lupa, kawah ini mengeluarkan asap belerang yang beracun dan sebaiknya tidak berada di puncak hingga pukul 10.00 WIB. Saat di gerbang pos sebelum melakukan trekking di tempat pembelian karcis ada larangan bagi penderita jantung, asma, dan darah tinggi sebaiknya tidak mendaki ke gunung ini.

idjen 3

Pemandangan Indah Menuju Puncak Ijen

Saat ngos-ngosan, saya memilih memperlambat langkah dan sesekali duduk di tepi jalan sambil tarik nafas dalam-dalam dan tak lupa mengambil gambar. Ada yang menarik dari puluhan orang yang lalu lalang di depan saya, bapak-bapak setengah baya memikul dua keranjang dibahu berjalan dengan sedikit tergopoh-gopoh. Raut wajah yang keras, tegang, pandangan mata yang sayu dan lemah seolah mengisyaratkan tekanan kehidupannya.

idjen 9

Belarang yang biasa  dipikul oleh penambang

“Dia penambang belerang” kata Alvin teman yang mengantar sekaligus jadi guide kami, seolah menangkap apa yang ada dipikiran saya karena memandangi penambang belerang yang lalu lalang dengan tatapan tanpa berkedip. “Dibahunya terpikul beban 70 – 80 Kg belerang dan memikulnya dengan medan mendaki sejauh 3,5 km yang setibanya di bawah akan dihargai Rp 900 – Rp 1000. Ada juga yang telah dijadikan souvenir dan dijual mulai harga Rp.5000 hingga Rp 15.000. Sungguh sayang sekali karena saya tidak sempat bercerita langsung pada salah satu penambang belerang yang lewat dan mengambil gambarnya karena kami buru-buru untuk mencapai puncak agar tidak kesiangan.

 

 

 

FB_IMG_1453764089699

salah satu souvenir yang kubeli

Setelah tiba dipuncak dan berfoto-foto sekitar kawah, kami bergegas ke bawah kembali karena matahari makin meninggi. Kami tiba di Pondok Bunder, dekat pos itu ada warung yang menyediakan kehangatan uppss yang hangat-hangat maksudnya seperti kopi, teh hingga mie seduh instan. Karena perut kami keroncongan belum sarapan, kamipun memesan mie instan. Begitu pesanan kami datang, tiba-tiba mas Alvin nyeletuk “Mba, jangan langsung dimakan, emang ga berasa panasnya tapi entar setelah itu bibirnya akan terkelupas” ohh ya??? Kata saya, “Okay, berarti biarkan aja dulu beberapa menit. Selesai sarapan kamipun berfoto-foto sekitar pondok bunder dan membeli souvenir dari belerang, tolong jangan ditawar karena souvenir ini hanya dihargai Rp 5.000 – Rp 15.000 sesuai ukurannya. Karena dengan melihat langsung proses penambangan dan cara mengangkutnya pasti anda tidak akan tega untuk menawar dibawah harga lagi.

 

 

idjen 2

Nah Cerita mengejar Blue Fire ini, ditutup dengan sedikit insiden yang hampir saja membawa petaka. Dalam perjalanan pulang dari Paltuding menuju Licin, ada kelokan berbentuk S yang menurut saya terjal. Saat berangkat tadi pagi di tanjakan ini dengan terpaksa saya harus turun dari sepeda motor matic yang dikendarai teman saya, karena sudah tidak mampu menanjak . Tetapi bukan insiden saat berangkat yang akan saya ceritakan, tetapi sepulangnya kami dari Ijen. Memang untuk motor matic tidak disarankan untuk melewati jalur ini, karena belakangan saya tahu kalau 6 Km sebelum mencapai Paltuding dari Licin ada tanjakan yang dikenal terjal namanya tanjakan erek-erek .

Saat melewati jalur ini tiba-tiba saya merasa sepeda motor melaju kencang, dalam keadaan tegang saya mencoba bercerita dengan teman saya, “Mas ini wilayah apa namanya”???teman saya hanya mengatakan satu kata “iya”. Aneh, dalam hati saya berkata “apa dianya lelah yah atau lagi malas ngobrol”…Yaaa sudahlah, ehhh tapi ko’ teman saya menurunkan kakinya yah ???belum juga sempat saya mencari tahu tiba-tiba motor oleng karena menghindari mobil yang berhenti dipinggir jalan, huffttt serasa jantung saya mau copot. Belum juga saya menarik nafas lega, Buaarrrrrrr saya tidak tahu apa yang terjadi hingga saya tahu kalau saya terlempar dan jatuh cantik dibawah sebuah pohon ditepi jurang. Dan disamping saya mas Alvin tertindis motor, saya mencoba bangkit untuk mengangkat motor itu namun saya tak kuat sampai akhirnya teman yang satunya bersama Lastri datang untuk membantu saya. “Maaf…Maaaf….Maaaf mba, Remnya Bloong sejak diturunan tadi” kata Mas Alvin. “Saya ga mau mba shock jadinya saya ga cerita. “Ingat ga’ waktu tadi kamu ngajak aku cerita, cuma kujawab iyya karena lagi konsen nyari cara gimana motor ini bisa berenti sementara penurunan ini masih panjang”. “Nah, Saat ngeliat pohon ini, saya banting aja motor kearah ke pohon ini daripada nanti nabrak orang……”Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas pertolonganMu, terima kasih ya Allah engkau telah menyelamatkan kami “kataku dalam hati.

idjen 4

Keep Smile, Selamat Pagi…..

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | 7 Komentar